Iklan
Iklan

Workshop Guru TPQ dan MDTA Se- kecamatan Lembah Segar Upaya Bangun Generasi Qurani Sawahlunto Hadapi Dekadensi Moral

Sawahlunto, dutametro.com – Semangat kemandirian dalam peningkatan kualitas pendidikan keagamaan di tingkat akar rumput yang kini bertumpu pada penguatan kompetensi pendidik dan kolaborasi antarlembaga tercermin dalam workshop guru Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Se- Kecamatan Lembah Segar Kota Sawahlunto, yang digelar di Silo meeting room Parai Hotel, Selasa (07/07/2026). Acara yang mengusung tema “Tingkatkan Kompetensi, Bangun Generasi Qur’ani” itu diinisiasi sepenuhnya oleh Badan Kerjasama (BKS) TPQ/MDTA Kecamatan Lembah Segar melalui pembiayaan mandiri dari dana kas internal organisasi.
“Langkah swadaya ini diambil untuk membedah empat problem mendasar umat saat ini, yakni lemahnya fondasi akidah, kemerosotan moral generasi muda, tantangan metodologi belajar, serta rapuhnya ukhuwah Islamiyah akibat menipisnya rasa kepedulian sosial,” kata ketua BKS TPQ Lembah Segar, Zainab.

Ketua BKS Lembah Segar Zainab juga menyayangkan masih rendahnya partisipasi para pendidik dalam program peningkatan mutu internal selama ini. Dia menyoroti minimnya kehadiran guru TPQ dalam agenda tahsin Al-Qur’an bulanan, padahal program tersebut sangat krusial untuk menjaga standar kualitas bacaan sebelum diajarkan kepada santri.
“Sangat disayangkan, guru-guru TPQ tidak begitu banyak mengikuti tahsin Al-Qur’an bulanan, padahal ini sangat penting untuk menjaga kualitas sanad bacaan. Melalui forum ini, kami berharap Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto dapat memberikan pencerahan sekaligus arahan tegas agar para guru berkomitmen menghadiri pembinaan berkala tersebut,” ujar Zainab.

Ketua Panitia Pelaksana, Adrizon, menegaskan kegiatan ini dirancang sebagai wadah strategis untuk menjawab keresahan tersebut dengan mendongkrak kecakapan pedagogi pendidik sekaligus memperkuat sinergi antarlembaga. Selain itu, pertemuan ini bertujuan menyamakan persepsi dalam pengelolaan pembelajaran agar mutu pendidikan keagamaan di tingkat lokal semakin berkualitas.
“Kami berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang penyampaian materi secara teoretis. Lebih dari itu, forum ini harus menjadi sarana berbagi pengalaman, bertukar gagasan, serta mempererat tali ukhuwah di antara sesama pendidik TPQ dan MDTA,” kata Adrizon.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Sawahlunto, Zulkifli, yang hadir sebagai pemateri utama, mengingatkan bahwa TPQ dan MDTA merupakan benteng pertahanan pertama dalam menghadapi dekadensi moral.
“Komitmen guru dalam meningkatkan kapasitas diri dan menggarisbawahi tiga pilar mutlak yang harus diintegrasikan dalam kurikulum informal, yaitu akidah yang menghujam kuat sebagai jangkar ideologi, ilmu yang adaptif terhadap zaman, dan akhlak mulia sebagai manifestasi konkret dari ibadah,” ungkap Kakan Kemenag Zulkifli.

Terkait dengan metodologi pembelajaran, Zulkifli memberikan pandangan khusus mengenai pergeseran tren pengajaran Al-Qur’an dari masa ke masa. Menurut dia esensi dari pengajaran ini terletak pada ketepatan metodologi yang digunakan.
“Dulu kita mengenal metode Baghdadi, sekarang bergeser ke Iqra. Namun, intinya ada pada metodologi yang tepat. Menurut pandangan kami, metode klasik seperti Baghdadiyah sebenarnya merupakan metodologi yang paling pas dan mendalam untuk membentuk struktur pemahaman anak,” tutur Zulkifli.

Dikesempatan itu Kakan Kemenag Zulkifli juga menekankan agar setiap lembaga TPQ dan MDTA mulai menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) lembaga secara mandiri, terstruktur, dan akuntabel.(riky)

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News