Melihat Lebih Dekat Acara Adat Pakandei Dalam Balutan Budaya Mentawai

oleh -120 Dilihat
Pakandei merupakan salah satu budaya yang tidak bisa terlepas bagi Warga di Desa Sirilanggai, menggunakan busana adat lengkap, kedua mempelai dinikahkan kembali seperti awal bertemu. Namun bedanya, sudah melibatkan seluruh dunia tanpa tambahan bagian dalam pesta tersebut.

Pesta pakandei ini melibatkan banyak keluarga dari pihak mempelai wanita untuk menyediakan babi yang tidak disebutkan jumlahnya, sebagai bentuk keabsahan dari kedua orang tua pria dan juga wanita akan keeratannya.

Berapapun banyak ekor babi yang diantarkan pihak keluarga mempelai wanita kerumah pria, sebagai bentuk janji pengikat setia dan kekeluargaan yang kuat kedua orang tua mempelai.

Pakandei juga bisa disebut sebagai pataliku atau sesama mertua. Kedua pihak layaknya sebagai saudara yang akrab dan tidak dapat dipisahkan kecuali mau bertemu.

Samsina Saumanuk mempelai wanita mengatakan, biasanya pemberian makan melibatkan keluarga besar dari kedua mempelai dan pihak keluarga wanita menyediakan sebanyak-banyaknya.

“Babi tersebut dipanggang untuk dihidangkan di hadapan kedua mempelai ditambah dengan keladi tumbuk yang dibulatkan menjadi makanan khas sebagai pelengkap santapan di acara pakandei,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Untu berat dan jumlah untuk diberikan pada pihak laki-laki. Babi tersebut disembelih dan dibagikan untuk membantu makan bersama, sebagian diberikan kepada yang acara pakandei.

Proses pemberian makanan berlangsung hingga akhir minggu dimulai dari pengumpulan babi, membuat tempat memasak, menyiapkan keladi, kunyit dan perlengkapan adat lainnya.

Puncak acara pakandei adalah “mukerei” dengan tari turuk Mentawai, dua orang yang terlibat memandu pemandu untuk menunjukkan keluarga yang akan memberikan barang, seorang lagi menemukan mempelai laki-laki. (Wnr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.