Puluhan Tahun, Hermansyah Tetap Bertahan Jadi Kuli Angkut di Pasar Padang Panjang

oleh -121 Dilihat

SHALAT Shubuh berjamaah di masjid baru saja usai. Dingin masih menusuk tulang. Pagi belum terang, masih remang-remang. Hermansah (57) sudah mulai bergerak meninggalkan rumahnya di Singgalang.

Pagi itu, sebagaimana pagi-pagi di tiap Senin dan Jumat, dengan motor bebeknya, ia meluncur ke Padang Panjang. Mengais rezeki sebagai kuli angkut di Pasar Pusat. Selebihnya, di hari lain, ia menghabiskan hari di ladang.

Menjadi kuli angkut, sudah dilakoni Hermasnyah sejak tahun 80-an. Mulai ia menerima upah Rp 200 perak hingga saat ini Rp 10 ribu per sekali mengangkut barang-barang. Ia tetap gigih, di usianya yang tak lagi muda, karena menjadi kuli angkut sudah mendarah daging baginya.

“Saya jadi kuli angkut ini sudah sejak lama. Jadi agak susah bagi saya meninggalkannya. Orang-orang pasar sudah banyak mengenal saya. Mereka sudah terbiasa dengan saya,” ceritanya kepada Kominfo suatu ketika.

Ayah dari lima anak ini, bekerja hanya sampai pukul 09.30 WIB, karena setelah itu ia juga bekerja di ladangnya. Dari pengakuannya, penghasilannya sehari jadi kuli angkut ini cuma Rp 100 ribu. Itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, makanya ia lanjut berladang.

“Banyak yang saya tanam. Mulai dari bawang perai, cabai merah, bahkan pokat. Ini untuk tambahan penghasilan sehari-sehari saya,” ujarnya.

Dimasa pandemi Covid-19, Hermansyah mengaku penghasilannya sempat berkurang. Namun saat ini, sudah kembali normal lagi.

“Namanya hidup, kadang di atas kadang di bawah,” katanya berfilosofi.

Pria asli Singgalang ini, berharap semoga yang ia lakukan ini berkah dan menjadi amal ibadah bagi ia nantinya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.