Di Bangku Kayu Somagede, Kemanunggalan TNI dan Rakyat Terpatri

Kebumen — Siang menggantung berat di langit Desa Somagede. Matahari meneteskan cahaya seperti bara, membungkus lokasi rabat beton Program TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen dalam peluh dan debu.

Deru molen masih berputar, sekop beradu dengan kerikil, dan langkah-langkah pengabdian terus berjejak di atas tanah yang perlahan berubah menjadi jalan harapan.

Di sela waktu istirahat, di bangku kayu sederhana milik warga yang berdiri di sekitaran sasaran rabat beton, Serka Toni duduk melepas lelah. Punggungnya bersandar, napasnya turun naik seperti ombak kecil yang mencoba tenang setelah diterpa angin.

Peluh membasahi kerah seragam lorengnya. Dari ambang pintu rumah itu, Pak Samsuri memperhatikan dengan mata yang tak sekadar melihat, tetapi merasakan. Wajahnya menyimpan haru, haru yang lahir dari kesadaran bahwa jalan yang kini dibangun adalah untuk anak-cucu desanya kelak.

Ia melangkah mendekat.
“Pak… capek ya?” tanyanya pelan.
Serka Toni tersenyum tipis. “Namanya kerja, Pak. Capek itu teman sehari-hari.”
Tanpa banyak kata, Pak Samsuri duduk di sampingnya. Tangannya yang kasar oleh kerja sawah mulai memijat perlahan bahu sang prajurit.

Bangku kayu itu pun menjadi saksi, bukan hanya tempat beristirahat, tetapi ruang kecil tempat kemanunggalan benar-benar bernapas.
Serka Toni sempat menoleh, sedikit sungkan. “Waduh, Pak… jadi tidak enak saya.”
Pak Samsuri terkekeh ringan. “Tidak apa-apa, Pak. Biar saya yang gantian membantu. Bapak-bapak sudah bantu desa kami.”

Pijatan itu sederhana, namun hangatnya menjalar lebih jauh dari sekadar otot yang lelah. Ia menyentuh rasa—rasa terima kasih, rasa bangga, dan rasa memiliki yang tak bisa diukur dengan kata.
Tak jauh dari bangku kayu itu, pekerjaan kembali dipersiapkan. Adukan semen menunggu untuk diratakan. Jalan yang dulu becek dan terjal kini perlahan menjelma lebih kokoh.

Dansatgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., menyampaikan bahwa momen seperti inilah yang menjadi jiwa dari TMMD.

“Kebersamaan TNI dan rakyat bukan hanya saat bekerja bersama, tetapi saat saling peduli dalam kelelahan dan keikhlasan,” tuturnya.
Siang terus berjalan. Istirahat usai. Serka Toni bangkit dari bangku kayu itu dengan bahu yang terasa lebih ringan. Bukan semata karena pijatan, melainkan karena ketulusan yang menyertainya.

Di Desa Somagede, rabat beton memang sedang dituntaskan. Namun di atas bangku kayu sederhana itu, sesuatu yang lebih kuat sedang dibangun—ikatan hati antara prajurit dan rakyat.
Dan di tengah debu yang beterbangan, kemanunggalan itu tetap berdiri kokoh… seteguh jalan yang sedang mereka perjuangkan bersama.(faiza)

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News