Sambut Ramadan, Satgas TMMD Kodim 0709/Kebumen Perindah Masjid Baitul Tabi’in

Kebumen – Pagi itu, langit Desa Somagede seperti menggantungkan doa-doa yang belum selesai diucap. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan harap yang menyatu dalam denyut program TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen.

Di pelataran Desa Somagede, suara gesekan tangga dengan dinding masjid berpadu dengan takbir yang samar terdengar dari kejauhan. Di atas ketinggian, Sertu Sukarim, anggota Satgas TMMD, berdiri tegap. Di tangannya, lembar demi lembar ternit diangkat, disusun, dan dipasang dengan ketelitian seorang prajurit yang tak hanya bekerja, tetapi berkhidmat.

Masjid Masjid Baitul Tabi’in hari itu tak sekadar menjadi bangunan yang diperbaiki. Ia adalah simbol. Ia adalah rumah sujud yang sedang diperindah, seakan ingin menyambut Ramadan dengan wajah baru yang lebih teduh.
“Pelan-pelan, Tur… biar rapat, jangan sampai bocor kalau hujan,” ujar seorang warga dari bawah, matanya menyipit menahan silau matahari.

Sertu Sukarim tersenyum, mengangguk. “InsyaAllah, Pak. Biar jamaah nyaman tarawihnya.”
Kalimat sederhana itu meluncur ringan, namun sarat makna. Sebab yang sedang ia pasang bukan sekadar ternit. Ia sedang menutup celah agar tak ada lagi air hujan yang menetes di antara saf-saf salat. Ia sedang menyiapkan ruang agar doa-doa Ramadan dapat terbang tanpa terganggu.

Program TMMD Reguler ke-127 yang digelar oleh Kodim 0709/Kebumen memang menyasar pembangunan fisik—dari rabat beton hingga renovasi fasilitas umum. Namun di balik semen dan pasir, selalu ada cerita tentang hati yang dirawat dan kebersamaan yang dipererat.

Komandan Kodim 0709/Kebumen, Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., menegaskan bahwa kehadiran prajurit di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan program, tetapi menanamkan nilai pengabdian.
“Ramadan adalah bulan memuliakan sesama. Apa yang dikerjakan anggota di lapangan adalah bentuk ibadah sosial—menguatkan desa, sekaligus menguatkan ukhuwah,” tuturnya, Minggu (01/03/2026).

Di bawah terik yang perlahan meninggi, Sertu Sukarim kembali merapatkan baut terakhir. Keringat menetes dari pelipisnya, jatuh ke lantai masjid yang kelak akan dipenuhi sujud. Ia berhenti sejenak, memandang ke bawah. Anak-anak berlarian kecil, para orang tua memperhatikan dengan tatapan haru.

“Semoga berkah ya, Pak,” bisik seorang ibu, lirih namun penuh doa.
Dan pagi itu, di Desa Somagede, berkah terasa begitu nyata. Ia menjelma dalam tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih, dalam atap yang terpasang rapi, dan dalam semangat gotong royong yang tak pernah lapuk oleh waktu.

Di bulan suci ini, prajurit dan rakyat kembali menyatu. Seperti ternit yang disusun satu per satu, mereka merangkai harapan—agar setiap sujud di Masjid Baitul Tabi’in menjadi saksi bahwa pengabdian adalah bahasa cinta paling sunyi, namun paling abadi.
(faiza)

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News