PURBALINGGA — Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat saat Rusmiah sudah menyalakan tungku di dapurnya. Di sudut rumah sederhana di Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, aktivitasnya dimulai lebih awal dari kebanyakan orang. Bukan tanpa alasan, hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia menyiapkan takir berisi makanan dan camilan untuk para pekerja di lokasi TMMD.
Sejak subuh, tangannya tak berhenti bergerak. Menanak nasi, mengolah sayur, hingga menyiapkan lauk sederhana yang ia pastikan tetap hangat saat disantap. Sesekali ia mengelap keringat di dahi, namun raut wajahnya tetap tenang. Baginya, ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kepedulian.
“Yang penting mereka bisa makan enak dan punya tenaga buat kerja,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Setelah semua siap, perjalanan belum usai. Bersama ibu-ibu lain dari luar Dusun Batur, Rusmiah melangkahkan kaki menuju lokasi TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga. Jalan yang dilalui bukan tanpa tantangan, tanah yang belum sepenuhnya rata, jalan setapak yang naik turun, serta beban di tangan yang tak ringan. Namun langkah mereka tetap mantap.
Rusmiah hanyalah satu dari banyak sosok perempuan desa yang mengambil peran dalam pembangunan. Mereka mungkin tak memegang cangkul atau mengangkat material berat, tetapi kontribusinya tak kalah penting. Dari dapur-dapur sederhana, mereka memastikan para pekerja mendapatkan asupan yang cukup untuk melanjutkan pekerjaan.
“Hari ini gilirannya saya dan ibu-ibu lain untuk menyiapkan takir. Hari ini saya buat nasi bungkus dan beberapa gorengan untuk camilan, sederhana saja, yang paling penting kontribusi untuk ikut dalam proses pembangunan ini,” lanjutnya.
Di balik pembangunan fisik yang terlihat, ada kerja-kerja sunyi yang sering luput dari perhatian. Seperti langkah kaki Rusmiah di pagi hari itu yang membawa lebih dari sekadar makanan, ia membawa semangat gotong royong, kepedulian, dan harapan agar pembangunan ini benar-benar memberi manfaat bagi semua.
Dan ketika para pekerja menikmati hidangan itu di sela-sela aktivitas mereka, mungkin mereka tak hanya merasakan kenyang, tetapi juga hangatnya perhatian dari tangan-tangan tulus para ibu desa.(Faiza)


















