Sawahlunto, dutametro.com – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jendral Pemasyarakatan Sumatera Barat Kunrat Kasmiri resmikan pembinaan kemandirian “Jemari Jeruji ” Batik Tangsi Lembaga Pemasyarakatan Narkotika kelas 3 Kota Sawahlunto, Selasa (06/01/2026). Batik Tangsi karya orisinal warga binaan dengan motif khas yang terinspirasi dari sejarah tangsi orang rantai di Sawahlunto pada masa penjajahan Belanda.
“Batik Tangsi tidak sekedar hasil produk saja, namun lebih dari itu menjadi ruang harapan, pelajaran dan transformasi untuk menatap masa depan setelah melewati masa pembinaan di Lapas,” kata Kunrat Kasmiri.
Ka Kanwil Kunrat Kasmiri menambahkan, Batik Tangsi merupakan simbol kesempatan kedua bagi warga binaan. Dengan skill kemandirian yang didapat menjadi tonggak untuk bangkit dan kembali ke tengah -tengah masyarakat.
“Kita hilangkan stigma mantan napi melalui keterampilan yang dimiliki selama dibina di lapas,” ujar dia
Melalui kemandirian ini kata dia lagi, akan memberikan kontribusi nyata bagi warga binaan, hasil produk batik bisa dirasakan oleh warga binaan dan juga sebagai pemasukan bagi lapas dan negara.
“Ada premi bagi warga lapas yang ikut andil, dan juga untuk pemasukan bagi negara dan juga untuk kesejahteraan pegawai Lapas itu sendiri. Jadi selain kita melakukan pembinaan juga berdampak untuk kebaikan semua. Sekali melangkah dua tiga pulau terlampaui,” kata dia
Kepala LPKN Kelas 3 Sawahlunto Ressy Setiawan, Kehadiran batik ini sekaligus menjadi bentuk partisipasi Lapas dalam mengampanyekan Sawahlunto sebagai world heritage yang telah diakui UNESCO.
“Nama Tangsi, tidak secara kebetulan disematkan pada Batik ini. Akan tetapi penuh dengan makna sejarah yang terkandung dikota Sawahlunto.
“Sarat akan makna Tangsi yang ada di Sawahlunto, seperti penjara orang Rantai, pekerja paksa pertambangan batubara pertama di Indonesia serta Mak itam lokomotif pengangkut batubara di jaman itu,” jelas Kalapas Narkotika kelas 3 Sawahlunto Ressy Setiawan
Sementara mewakili Wali Kota Asisten I setdako Irzam K, sampaikan apresiasi program kemandirian yang dilakukan kepada warga binaan, sehingga bisa menjadi soft skill sebagai modal untuk kembali ke tengah -tengah masyarakat.
“Pemko sangat apresiasi dan support apa yang telah dilakukan pihak Lapas. Ini juga sebagai sebuah simbol pembinaan, karena meski terkurung tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang inovatif dan produktif,” kata Irzam.(riky)



