Dulu Ditakuti, Kini Terluka: Fakta Baru di Balik Kasus Pemukulan Saudah

Lubuk Aro – Masih ingatkan, kasus Saudah (67 th) korban pemukulan tersangka IS (26 th) alias Menek, di Lubuk Aro, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman ?

Hasil penelusuran wartawan di lokasi kejadian Lubuk Aro selama Jumat (16/01), berhasil mengungkap fakta berlawanan. Sekarang mungkin kita mengenal Saudah hanya sebagai korban, namun ternyata sebelumnya, Saudah adalah pelaku tindak kekerasan, penganiayaan dan intimidasi terhadap sejumlah orang di Lubuk Aro.

Seperti dialami Ernawati (43 th). Ibu tiga anak yang masih satu keturunan nenek dengan Saudah. Wanita bertubuh kecil rada ceking ini, mengaku dirinya nyaris meregang nyawa akibat tindak kebrutalan Saudah.

“Kejadiannya tahun 2022 lalu. Hampir mati saya waktu itu,” ujar Ernawati dengan badan bergetar ketakutan.

Peristiwa bermula saat Ernawati sedang membuat pondok Sawah di areal persawahan peninggalan ibunya. Tak lama berselang Saudah datang untuk melarang Ernawati sambil mengayunkan golok ditangannya.

“Saya terus mundur menghindari golok, hingga terjatuh. Waktu terjatuh itulah Tek Saudah menginjak kepala saya, lalu
naik ke tubuh saya dan mencekik leher Saya sambil dibenamkan ke lumpur,” tutur Ernawati seraya menangis histeris mengingat peristiwa itu.

Masih untung nyawa Ernawati masih dapat selamatkan, karena cepat dilarikan ke puskesmas.

Sejak peristiwa mengerikan itu, Ernawati terus dihantui rasa ketakutan, apalagi bila bersua dan melihat wajah Saudah.

“Saya masih ingat wajahnya menyeringai menatap saya sambil berteriak ‘mati kau, mati kau, mati kau,” kata Ernawati dibarengi tangis pilu orang ketakutan.

Perlakuan Saudah waktu itu benar benar keji dan di luar nalar.

Atas perbuatan pidana tersebut, Saudah harus menjalani proses hukum hingga ke pengadilan. Vonis Hakim menetapkan Saudah bersalah dan mesti menjalani tahanan rumah serta wajib lapor 16 hari ke PN Lubuk Sikaping.

Terakhir tiga pekan lalu, ketika Saudah kembali mengamuk dengan golok terhunus, membabat pohon kelapa yang ditanam Ernawati di belakang rumahnya.

“Lebih baik pasrah, apalagi Dia selalu membawa golok,” tutur Ernawati sedih melihat pohon kelapa berusia satu tahun itu, habis dicincang cincang Saudah.

Kesewenangan Saudah di Lubuk Aro ternyata sudah memakan banyak korban. Dari beberapa sumber menyatakan, ada yang tanahnya diambil, sawahnya diambil, kebun karetnya diambil, tanaman sawitnya dirusak, ditempeleng, dituduh membunuh itik dan harus membayar ganti rugi, diancam dengan golok dan banyak orang di Lubuk Aro telah menerima ‘carut pungkang’ Saudah, Anjing Kau, Babi Kau !!

“Kami segan melawan Etek itu, karena Beliau sudah banyak menolong keluarga Saya. Tiga dari empat anak Saya, Tek Saudah yang membantu persalinannya. Begitu juga kalau anak Saya sakit, Erek juga yang mengobati,” ujar Parmin didampingi istrinya Ernawati.

Memang, di Lubuk Aro tidak ada yang berani melawan Saudah. Selain status sebagai wanita tua, Saudah juga dikenal sebagai dukun dan pewaris keturunan raja di kampung itu.

Diantara korban Saudah yang sempat tercatat, adalah kasus pengrusakan kebun sawit milik Sawal yang diklaim Saudah sebagai miliknya, peninggalan orang tuanya dulu.

Kemudian Jalaludin (53 Th), sawahnya sekitar 1 ha, diambil paksa Saudah dan telah dikuasainya hingga sekarang . Padahal menurut pengakuan kerabat Jalaludin, sawah itu dibuat (taruko) oleh ayah Jajaludin. Setelah ayahnya meninggal, jalaludin lah yang berhak menggarap sawah itiu.

Selanjutnya kebun karet Samsul di Tabek Parupuk sekitar 1 Ha. Kebun itu dulunya ditanam Jatodung, ayah Syamsul.

Pernah juga kasus kematian sekitar 30 ekor itik kelurga Saudah. Korban tertuduh adalah Parmin, orang yang berladang di dekat kandang itik tersebut.

Kasus ini sampai ke polisi Polsek Rao. Namun, lantaran tidak tahan bertengkar dan ribut berkepanjangan, Parmin akhirnya mengalah dan mengganti Rp. 2 juta kepada Saudah.

“Demi tuhan, saya tidak pernah membunuh itik itu,” ujar Parmin kemaren.

Selanjutnya ladang Pak Jorong, yang masih ada hubungan keluarga dengan Saudah, juga diambil dan dikuasai. Dan hngga kemaren dikhabarkan, istri Jorong masih sakit dan dirawat di puskesmas rawat inap, Rao karena mengalami depresi.

Begitu juga kelapa sawit milik Fikri, yang ditebang Saudah. Padahal tanah kebun itu dibeli Fikri ke Juli.

Lain lagi dialami Paet (43 th). Ia sering menerima makian Anjing Babi dari Saudah dan juga ditampar. Sementara Sayuti yang pernah melerai dan menyuruh Paet lari, malah diancam Saudah dengan golok ke perut Sayuti.

Aksi koboi Saudah di Lubuk Aro, benar-benar membuat resah warga setempat, dan Saudah sudah betulang kali membuat surat perjanjian di kantor polisi, tidak akan mengulangi perbuatannya.

Tidak tahan dengan prilaku Saudah, ninik mamak, tetua adat dan para tokoh Lubuk Aro akhirnya menggelar rapat adat di rumah gadang setempat, Kamis malam 1 Januari 2026. Putusan diambil, Saudah dikeluarkan dari adat.

Terakhir, aksi anak raja, Saudah, di Lubuk Aro dihentikan seorang anak muda yang ayahnya terus dimaki dan sering diancam akan dibunuh oleh Saudah.

Is alias Menek, anak Husnil yang masih kerabat dekat dengan Saudah, dengan kemarahan memuncak, akhirnya memukul Neneknya itu dengan tinju kerasnya bertubi tubi, hingga Nek Saudah bonyok dan terluka, serta pingsan di lokasi bantaran Sungai Batang Sibinayil, Lubuk Aro, Kamis (01/01) awal tahun kemaren.

Saat hal ini akan dikonfirmasi ke Tek Saudah, ternyata yang bersangkutan sudah tidak tinggal di Lubuk Aro.

“Setelah keluar dari Rumah Sakit, Tek Saudah tidak pulang ke rumahnya di sini. Kabarnya tinggal di rumah saudaranya,” kata Miswar yang dijumpai di jalan depan rumah Saudah.

***

Must Read

Iklan

Related News