Musda Golkar Kotamobagu Memanas: Isu “Main Mata” CEP Picu Gejolak Internal

Kotamobagu,DutaMetro.com-Dinamika jelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kota Kotamobagu kian panas dan sarat intrik. Seorang pemerhati politik yang enggan disebutkan namanya melontarkan tudingan keras terhadap Christiany Eugenia Paruntu (CEP), yang disebut-sebut tidak netral dan berpihak kepada salah satu bakal calon ketua.
Tudingan tersebut langsung menyulut spekulasi liar di internal partai berlambang beringin. Situasi ini semakin memanas karena perebutan kursi Ketua DPD II Golkar Kotamobagu melibatkan sejumlah figur kuat dengan basis dukungan yang solid dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

Menanggapi isu tersebut, CEP akhirnya buka suara saat menghadiri agenda buka puasa bersama Wali Kota Kotamobagu di kawasan Sutan Raja Hotel Kotamobagu, Rabu (18/3/2026). Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa pelaksanaan Musda hingga kini masih menunggu keputusan resmi dari DPP Partai Golkar.

“Musda masih menunggu jadwal. Kita berharap dalam waktu dekat sudah ada ketentuan dari DPP,” ujar CEP.

Terkait tudingan keberpihakan, CEP tidak memberikan bantahan tegas, melainkan memilih sikap diplomatis. Ia menegaskan dirinya realistis dalam melihat dinamika politik internal partai.

“Saya realistis saja. Siapapun yang nantinya terpilih, itu berarti memiliki kapasitas dan tentu sudah disetujui oleh DPP,” tegasnya.
Namun, pernyataan tersebut justru dinilai belum mampu meredam gejolak. Sejumlah kalangan menilai sikap “netral” yang disampaikan CEP terkesan normatif dan membuka ruang tafsir politik, terutama di tengah persaingan yang semakin mengerucut dan sensitif.

Sejumlah nama yang kini menguat dalam bursa calon Ketua DPD II Golkar Kotamobagu antara lain Herdi Korompot, Raski Mokodompit, Fachrian Mokodompit, serta Rendy Virgiawan Mangkat. Mereka disebut memiliki jaringan kuat serta pengaruh signifikan di tingkat lokal.

Dengan komposisi kandidat yang sama-sama kuat, Musda Golkar Kotamobagu diprediksi tidak sekadar menjadi forum konsolidasi, melainkan arena pertarungan pengaruh antar-elit yang berpotensi memicu friksi serius jika tidak dikelola dengan bijak.

Hingga kini, belum adanya jadwal resmi dari DPP membuat suhu politik di tubuh Golkar Kotamobagu terus bergerak dinamis—bahkan cenderung kian memanas, membuka peluang konflik internal yang lebih tajam dalam waktu dekat.**

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News