Minggu, Juni 23, 2024

Museum Gudang Ransum Sawahlunto, Bukti Sejarah Pusat Pendistribusian Makanan Buruh Tambang

More articles

Sawahlunto, dutametro.com – Transformasi Sawahlunto sebagai world heritage dengan ‘ Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) setelah ditetapkan oleh UNESCO pada 2019 lalu, Sawahlunto memiliki nilai jual dan identitas kuat, yakni bekas pertambangan batu bara beserta infrastruktur pendukung seperti kota tua, kota tambang, fasilitas kereta api untuk transportasi angkutan hasil tambang, gudang penyimpanan dan keanekaragaman budaya masyarakatnya.

Salah satu yang membuat OCMHS berbeda dengan situs warisan budaya lainnya, yakni selain pertambangan, juga terdapat pembangkit listrik dan air serta dapur umum dengan kapasitas lebih dari 6.000 ransum (makanan orang rantai) yang memakai teknologi Jerman dan juga fasilitas rumah sakit.

Museum Goedang Ransoem dapat dianggap sebagai salah satu mata rantai sejarah Kota Sawahlunto. Dapur umum yang dibangun pemerintah Kolonial Belanda pada 1918, saat ini disulap menjadi Museum Gudang Ransoem, merupakan salah satu bukti sejarah pusat pendistribusian makanan bagi para buruh tambang batubara. Aktifitas dapur umum ini berlangsung hingga masa agresi Belanda ke 2 pada 1949. Selanjutnya pada 1950 dapur umum ini berubah fungsi sebagai kantor administrasi Perusahaan Tambang Batubara Ombilin. Pada 1970 sampai dengan 1980 bangunan ini berubah menjadi gedung sekolah untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), tahun 1980 sampai 2004 berubah fungsi menjadi hunian masyarakat hingga akhirnya pada 2005 pemerintah kota Sawahlunto melakukan revitalisasi bangunan dapur umum dan di konversi menjadi museum Gudang Ransoem yang diresmikan pada 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.

Dimasanya, dapur umum ini dilengkapi dua buah gudang besar dan tungku pembangkaran untuk memasak 3.900 kg beras setiap harinya untuk pekerja tambang, orang rantai, pasien rumah sakit dan keluarga pekerja tambang.

Diambil dari berbagai sumber, pada mulanya gudang Ransoem ini memiliki 24 ketel (periuk) ukuran besar, namun kini hanya tinggal 2 tipe periuk, yakni periuk untuk memasak sayur dan untuk memasak nasi.
Periuk untuk memasak sayur terdiri dari tiga bagian, yakni lapisan luar lapisan dalam dan tutup periuk dengan diameter 148 cm, tinggi 70 cm dan tebal 1,2 cm. Periuk bagian luar terbuat dari besi sedangkan bagian dalam dan tutup periuk berbahan Nikel. Sementara periuk untuk memasak nasi terdapat 4.lapis, yaitu lapisan luar, dalam, langsang dan tutup periuk. Periuk lapisan luar terbuat dari besi dimana memiliki 2 buah lubang pada bagian dinding sebahai lubang saluran uap, sedangkan pada bagian bawah terdapat lubang keran untuk membuang sisa air dalam perouk lapisan dalam yang terbuat dari bahan Nikel. Pada bagian atas periuk terdapat 6 kuping baut yang berfungsi untuk mengunci. Sedangkan langsang periuk yang berbahan Nikel ditengahnya terdapat kerucut, dan bagian atas langsang ada 3 kuping sebagai cantolan untuk mengangkat langsang.

Fungsinya yang terus berubah, tidak merubah bentuk dari bangunan Gudang Ransoem. Bangunan ini tetap kokoh berdiri dengan berbagai cerita yang tersimpan didalamnya. Kini Gudang Ransoem atau museum Gudang Ransoem merupakan salah satu museum andalan Sawahlunto dalam menarik wisatawan untuk berkunjung kekota ini. (rki)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest