Kabupaten Semarang – Di sela-sela padatnya kegiatan pembangunan fisik TMMD Reguler Ke-129 Kodim 0714/Salatiga, Satgas TMMD tidak hanya fokus pada pengerjaan sasaran pembangunan, tetapi juga menyempatkan diri untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat. Salah satunya dengan mengunjungi sekaligus belajar dari usaha kerajinan bambu milik warga di Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Dalam suasana yang sederhana di rumah produksi, seorang anggota Satgas tampak antusias mencoba proses pembuatan kerajinan berbahan dasar bambu. Dengan penuh kesabaran, warga membimbing mulai dari teknik memotong, membentuk, hingga menghaluskan bambu agar menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi. Momen tersebut menjadi gambaran nyata bahwa TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara TNI dan masyarakat. Rabu ( 22/7/2026 )
Kerajinan bambu merupakan salah satu potensi ekonomi yang dimiliki warga Desa Cukil. Berbekal keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, masyarakat mampu mengolah bambu menjadi berbagai produk fungsional dan bernilai seni. Meski dikerjakan dengan peralatan sederhana, hasil karya mereka mampu bersaing dan menjadi sumber penghasilan bagi keluarga.
Kehadiran Satgas TMMD di lokasi usaha memberikan semangat tersendiri bagi para pelaku UMKM desa. Interaksi hangat yang terjalin menunjukkan bahwa perhatian terhadap masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan jalan, renovasi rumah, maupun fasilitas umum, tetapi juga dengan memberikan apresiasi terhadap usaha kecil yang menjadi penopang perekonomian warga.
Bagi Satgas TMMD, belajar langsung dari masyarakat merupakan pengalaman yang sangat berharga. Selain menambah wawasan mengenai potensi lokal, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Canda, tawa, dan kebersamaan yang tercipta selama proses pembuatan kerajinan menjadi bukti bahwa hubungan antara prajurit dan masyarakat dibangun atas dasar saling menghargai dan saling belajar.
Program TMMD pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap potensi ekonomi masyarakat. Dengan mengenalkan dan mengangkat usaha-usaha lokal, diharapkan semakin banyak pihak yang memberikan perhatian sehingga produk-produk hasil karya warga memiliki peluang pasar yang lebih luas dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Semangat kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan ini menjadi cerminan bahwa membangun desa bukan hanya soal mendirikan bangunan atau membuka akses jalan, melainkan juga menghargai setiap karya, menguatkan setiap usaha, serta menumbuhkan optimisme masyarakat untuk terus berkembang. Dari sepotong bambu yang diolah dengan penuh ketekunan, lahirlah sebuah pelajaran bahwa pengabdian akan semakin bermakna ketika disertai kepedulian terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat.
(Faiza)

























