Minggu, Februari 25, 2024

Sarankan Perempuan Harus Lebih Percaya Diri dan Speak Up ,Ini Kata Dirut Alodokter

Must read

dutametro.com.-Sarankan Perempuan Harus Lebih Percaya Diri dan Speak Up ,Ini Kata Dirut Alodokter.Banyak perempuan yang kurang percaya dengan kemampuan (skill) yang dimiliki. Sehingga, mereka cenderung meragukan dirinya sendiri saat melamar pekerjaan.

Tantangan kepercayaan diri ini disebut dengan sindrom penipu (imposter syndrome) oleh Pauline Claunce dan Suzanne Imes. Dikatakan, perempuan sering mengungkapkan, mereka merasa tidak pantas mendapatkan pekerjaan dan merasa khawatir tidak disukai, tidak mampu bersaing, dan lain sebagainya.

Hal ini sama dengan apa yang disampaikan oleh Direktur Utama dan Co-Founder Alodokter, Suci Arumsari di sela-sela talkshow “Women’s Leadership in Public Health”, Kamis (23/3/2023) yang diselenggarakan Pusat Kajian Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) dan Takeda.

Dia berpendapat, hal ini terjadi karena pandangan orang, “memang bisa?” yang membuat perempuan terdoktrin, merasa rendah diri, dan melamar ketika kualifikasinya sudah mencapai sekitar 90 persen dari lowongan yang dibuka.

Meski lulusan universitas ternama, nilainya bagus, kadang tidak pede untuk melamar, kata Suci. Inilah yang membuatnya kebingungan.

“Ternyata pas aku lihat, mereka malu kalau gagal. Jadi, mereka belajar dulu kalau udah jago baru mulai, padahal semua bisa learn by doing,” kata Suci kepada Barisanco.

Sementara, di tengah kurangnya kepercayaan diri perempuan, banyak perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan untuk gender tertentu. Suci menyayangkan perusahaan yang mengkhususkan gender tertentu.

Secara pribadi, Suci menilai, jika berbicara mengenai dunia professionalist, baik perempuan atau laki-laki bisa melakukan hal yang sama.

“Mungkin ada beberapa pekerjaan yang perempuan kurang intuit, misalnya pasang satelit. Tapi, kalau misal pekerjaan yang di bidang apa pun itu perempuan dan laki-laki itu seharusnya tidak ada perbedaan,” jelasnya.

Di Alodokter, Suci sampaikan, saat membuka lowongan pekerjaan, tidak pernah mengkhususkan perempuan atau laki-laki.

“Tapi memang sosok yang bisa memenuhi kualifikasi yang kita butuhkan. Jadi, bukan berdasakan gender, tapi keterampilan yang membuahkan hasil dari pekerjaan yang ingin diberikan,” tambahnya.

Namun, ada hal lain yang memperburuk keadaan. Selain, kepercayaan diri, lowongan yang dibuka untuk gender tertentu, persoalan kesenjangan gaji pun dihadapi perempuan di tanah air. Ini dapat dilihat dari laporan KemenPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) “Profil Perempuan Indonesia 2022“.

Laporan itu mengungkapkan, meski tingkat pendidikan sejajar, perempuan mendapatkan gaji lebih rendah dari laki-laki. Selain itu, meski di sektor pekerjaan yang sama, perempuan juga memperoleh gaji lebih rendah, kecuali di sektor D (pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin), sektor F (konstruksi), dan sektor H (pengangkutan & pergudangan).

Suci menyampaikan, keprihatinan dengan realita tersebut. Dia menyampaikan, sebenarnya ada banyak alasan yang memengaruhi, tapi alasan utamanya adalah sebagai perempuan ketika dikasih offer lebih cenderung tidak pede, sehingga tidak punya keberanian untuk negosiasi.

Dia pun membagikan pengalamannya sebelum punya Alodokter.

“Saya ada pengalaman pribadi saat melamar pekerjaan di sebuah perusahaan, saya tahu ada saingan saya laki-laki. Pada saat dia menerima offer, kebetulan saya juga dengar, tapi saya dikasih offer yang lebih kecil dari saingan saya,” jelasnya.

Mungkin dari segi kemampuan, ungkap Suci, keterampilannya sama.

Suci memberanikan diri dan sampaikan kepada perusahaan tersebut, dia tidak menerima angka tersebut karena menurutnya, dia bisa memberikan value yang lebih. Dari pengalamannya itu, Suci menuturkan, perempuan harus berani speak up.

“Dan tentunya value yang saya berikan, harus dibayar lebih. Awalnya, aku pikir ga bakal diterima, terus akhirnya malah diterima karena itu adalah offer pertama,” terangnya.

Suci menyarankan, untuk perempuan, khususnya generasi muda ketika kita ditawari sesuatu untuk tidak melihat nilai kita pantas atau tidak. Sebab, disampaikan Suci, yang menilai diri kita itu diri kita sendiri.

“Kalau dikasih offer, kalau ngerasa kurang ya diobrolin. Mau diterima atau ga, ya gapapa, yang penting kita speak up for our self,” pungkasnya.

More articles

IklanIklanIklan HuT RI

Latest article