spot_img

Semarak Kemeriahan Panjat Debog & Mancing Lele di RT 18 Dusun Kepuh Selatan

Suara tawa pecah. Sorak-sorai membahana. Riuh tepuk tangan berpadu dengan semangat yang membara. Begitulah suasana yang menyelimuti kegiatan Panjat Debog dan Mancing Lele yang digelar di lahan pertanian milik salah satu warga RT 18 RW 06 Dusun Kepuh Selatan, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, pada Sabtu pagi, 31 Agustus 2025.

Sejak pukul 08.00 WIB, halaman belakang lingkungan RT 18 telah dipenuhi wajah-wajah ceria. Dari anak-anak kecil yang berlarian membawa bendera, para remaja yang tak sabar menunggu giliran, hingga para orang tua yang datang membawa dukungan dan doa untuk putra-putrinya. Semangat kebersamaan terasa begitu kental, seolah udara pagi ikut bergetar bersama tawa mereka.

Panjat Debog: Adu Nyali, Tawa, dan Air Mata Suka Cita
Ketika lomba panjat debog dimulai, suasana berubah semakin menegangkan. Batang pisang tinggi yang di gantung diantara dua tingkat Scaffolding dan dilumuri pelicin dari sabun cair tampak tergantung tegak, menantang keberanian para peserta.

Bersama Pak RT dan sejumlah warga, serta Kelompok pemuda aktif RT 18 satu per satu anak mencoba memanjat, saling berpegangan, saling menumpu, dan saling mengangkat satu sama lain.

Sorakan warga menggema: “Ayo! Sedikit lagi! Pegang kuat-kuat! Semangat, kamu pasti bisa!”

Beberapa peserta tergelincir dan jatuh, namun bukan tangisan yang terdengar, melainkan tawa riang dan semangat pantang menyerah. Hingga akhirnya, salah satu peserta berhasil meraih hadiah di puncak tiang. Suara gemuruh penonton pecah, membawa suasana menjadi lautan kegembiraan.

Panitia pun menyiapkan beragam hadiah menarik bagi peserta panjat debog, mulai dari peralatan rumah tangga hingga uang tunai pecahan Rp10.000, Rp20.000, hingga Rp100.000. Anak-anak bersorak bahagia saat melihat hadiah hiburan bergantungan dan bendera yang dilekatkan plastik berisi hadiah uang tunai.

Mancing Lele: Jeritan Bahagia di Tepi Sungai
Tak kalah seru, arena mancing lele menjadi pusat perhatian warga. Menggunakan aliran sungai kecil di lingkungan RT 18, peserta dari berbagai kalangan usia berbaris dengan ember dan kail sederhana. Anak-anak, remaja, hingga orang tua sama-sama memamerkan keterampilan mereka.
Keceriaan memuncak ketika seorang peserta berhasil mendapatkan lele pertama. Seketika terdengar teriakan bahagia: “Yeaaayyy! Dapat leleee!”

Tawa penontonpun pecah, sebagian anak-anak melompat kegirangan, sementara para orang tua bertepuk tangan memberi semangat.

“Lomba ini seru sekali! Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun ikut bersemangat. Siapa pun bisa jadi juara karena di sini semua punya kesempatan yang sama,” ujar salah satu panitia dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.

Momen Kebersamaan yang Tak Tergantikan
Bagi warga RT 18 Dusun Kepuh Selatan, lomba kali ini bukan sekadar kompetisi. Ia adalah perayaan kebersamaan, simbol gotong royong, dan ruang untuk menumbuhkan tawa bersama.
“Ini bukan sekadar lomba, tapi momen kebersamaan. Anak-anak senang, warga guyub, dan semangat gotong royong terasa nyata,” ucap panitia sambil memandang kerumunan dengan mata berbinar.

Tidak lupa tradisi warga RT 18, yakni Dahar Sesarengan (makan bersama) di pematang sawah mengiringi kemeriahan acara. Tua, muda, dan anak-anak menikmati kebersamaan.

Kemudian untuk melengkapi kebahagiaan di bagikan paket makanan ringan ke semua anak-anak peserta lomba, hingga masing-masing anak merasakan keikutsertaan mereka begitu berharga dan diharapkan panitia lomba.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan kemerdekaan yang tak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Di akhir acara, anak-anak pulang membawa hadiah, kebahagiaan, dan segudang cerita indah tentang perjuangan mereka hari ini.

RT 18 berhasil membuktikan bahwa kebersamaan, tawa, dan semangat merayakan kemerdekaan bisa menciptakan kenangan manis yang akan melekat di hati setiap warga.

(sG)

Must Read

Iklan
Iklan
iklan

Related News