Padang,dutametro.com.-Lebih dari 40 hari pascabanjir bandang yang melanda Batu Busuk, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, warga terdampak bencana masih berupaya menata kembali kehidupan mereka secara mandiri.
Lambannya penanganan serta pendekatan yang dinilai kurang tepat membuat masyarakat memilih bertahan dan bangkit tanpa dukungan nyata dari pemerintah setempat, Jumat (10/1/2025).
Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 tersebut meluluhlantakkan permukiman warga dan memaksa sedikitnya 80 kepala keluarga mengungsi. Sejak itu, warga menanti realisasi pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) yang dijanjikan pemerintah. Namun hingga lebih dari satu bulan berlalu, pembangunan tersebut belum juga terealisasi.
Perhatian pemerintah di tingkat kecamatan pun dinilai minim. Sejak puncak bencana pada 28 November 2025, Camat Pauh disebut belum pernah mengunjungi posko pengungsian di Talang Koto Tuo, Kelurahan Kapalo Koto. Kehadiran perangkat kelurahan hanya terlihat saat mendampingi pejabat dan tokoh publik yang menyalurkan bantuan, tanpa pendampingan berkelanjutan bagi korban.
Kondisi ini memperlihatkan penanganan bencana yang terfokus pada fase tanggap darurat semata. Padahal, tantangan terbesar justru berada pada fase pascabencana yang membutuhkan anggaran besar, kerja kolektif, serta keterlibatan seluruh pihak untuk memulihkan kehidupan masyarakat.
Di tengah keterbatasan tersebut, Karang Taruna Kelurahan Kapalo Koto bergerak mengambil peran. Sejak hari pertama banjir, organisasi kepemudaan ini mengelola posko, logistik, serta memenuhi kebutuhan dasar korban. Bahkan, Karang Taruna menginisiasi pembangunan huntara secara mandiri dengan mengandalkan donasi dari para dermawan. Huntara yang mereka bangun sudah dapat dihuni delapan hari pascabencana.
“Kami melihat warga tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga kepastian untuk bisa hidup kembali. Karena itu, kami bergerak semampu kami,” ujar Ketua Karang Taruna Kelurahan Kapalo Koto, Muhammad Ilham.
Upaya pemerintah membangun huntara dan huntap di Kecamatan Pauh terkendala persoalan tanah adat. Lahan yang direncanakan merupakan tanah kaum, sehingga harus dihibahkan dan berujung pada kepemilikan pribadi rumah. Skema ini dinilai bertentangan dengan adat Minangkabau yang tidak membenarkan tanah adat menjadi hak milik, melainkan hanya hak pakai.
Belum adanya solusi atas persoalan tersebut membuat pembangunan huntap tak kunjung berjalan. Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat, mengontrak, atau pindah ke huntara di Koto Tangah, terutama warga yang bekerja sebagai pekerja swasta. Namun mayoritas warga Batu Busuk berprofesi sebagai petani, sehingga tidak memungkinkan meninggalkan wilayah tersebut karena harus tetap mengurus ladang.
“Kalau kami pindah jauh, ladang tidak terurus. Itu berarti sumber penghidupan kami juga hilang,” kata Ilham.
Tak ingin kondisi berlarut-larut, Karang Taruna berinisiatif mengambil alih pembangunan dengan berkoordinasi bersama ninik mamak dari beberapa suku. Tanah kaum dimanfaatkan sebagai lokasi huntara dan huntap melalui kesepakatan adat. Pembangunan kini mulai berjalan dengan mengandalkan donasi berupa bahan bangunan, bukan uang tunai.
Pengerjaan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat, unsur TNI, serta mahasiswa KKN dari sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Bengkulu dan Universitas Sriwijaya. Namun mahasiswa KKN kebencanaan Universitas Andalas justru tidak ditempatkan di Batu Busuk, meski wilayah ini menjadi salah satu titik terdampak terparah.
Di tengah segala keterbatasan, warga mengaku sangat terbantu dengan kerja-kerja kemanusiaan Karang Taruna Kelurahan Kapalo Koto.
“Alhamdulillah, kami sebagai korban sangat berterima kasih kepada Karang Taruna Kelurahan Kapalo Koto bersama rekan-rekannya, dari hari pertama banjir hingga sekarang,” ujar Eva Susanti, warga terdampak banjir.
Hingga berita ini diterbitkan, warga korban banjir bandang Batu Busuk masih bertahan di hunian sementara hasil swadaya masyarakat, sembari menunggu langkah konkret pemerintah dalam pemulihan pascabencana.



