Sawahlunto, dutametro.com – Memasuki empat tahun paska terbakar 3 November 2022, Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) atau Gluck Auf akhirnya dibangun kembali atau revitalisasi. Revitalisasi itu ditandai dengan doa bersama dan serah terima dokumen pekerjaan, Jumat (13/02/2026) oleh Generasi Manager PT Bukit Asam Minning Site Ombilin Yulfaizon. Pengerjaan oleh PT Guna Cipta Kreasi (GCK) dengan nilai kontrak Rp22,5 miliar,- selama 180 hari kerja dengan masa pemeliharaan 90 hari. Hadir membersamai Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah.
General manager PT Bukit Asam Minning Site Ombilin Yulfaizon mengungkap, proses panjang mewarnai pelaksanaan revitalisasi bangunan yang masuk dalam cagar budaya warisan dunia UNESCO.
“Sudah berlangsung lama rencananya, mulai penyelidikan oleh kepolisian yang selesai pada Desember 2024, dilanjutkan evaluasi kajian cagar budaya yang keluar 2 Juni 2025 , dan perlengkapan dokumen pendukung, dan terakhir kick off meeting mulai pengerjaan 13 Februari 2026. Apa yang sudah direncanakan bisa berjalan dengan baik. Insya Allah Desember ini bisa selesai,” jelas dia.
Untuk proses pengerjaan lanjut dia, juga didampingi dari pihak kejaksaan negeri dan juga dimonitoring oleh Balai Pelestarian Budaya wilayah III Sumatera Barat.
Sementara Wawako Jeffry Hibatullah dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi atas dimulai pekerjaan revitalisasi. Wawako Jeffry harap pekerjaan revitalisasi ini berjalan lancar.
“Revitalisasi ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi gedung sebagai pusat kegiatan seni dan budaya, serta meningkatkan kualitas lingkungan sekitar. Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto merupakan salah satu cagar budaya yang penting di Sumatera Barat dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO,” kata Jeffry.
Diakhir sambutan, Wawako Jeffry meminta GPK ini harus menjadi tanggung jawab bersama, bisa bermanfaat dan dipergunakan bersama untuk kemaslahatan masyarakat dan kota Sawahlunto.
Gedung ini memiliki sejarah panjang, dibangun pada tahun 1910 dengan nama “Gluck Auf” sebagai tempat perkumpulan dan hiburan bagi pejabat kolonial Belanda. Setelah kemerdekaan, gedung ini menjadi aset PT Bukit Asam dan pernah digunakan sebagai kantor Bank Mandiri. Gedung ini diresmikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto pada 1 Desember 2006, bertepatan dengan HUT Kota Sawahlunto ke-118. Namun, pada 3 November 2022, gedung ini mengalami kebakaran yang cukup parah, sehingga memerlukan revitalisasi.(riky)

















