Iklan

Tak Kenal Lelah, Wanto Jadi Bagian Cerita Besar TMMD di Jembatan Garuda

PURBALINGGA — Di antara hamparan tanah yang masih basah dan tumpukan pasir yang menjulang, seorang pria paruh baya itu tak henti bergerak. Tubuhnya sedikit membungkuk, wajahnya terlihat menegang karena menahan beban. Ia adalah Wanto, pria paruh baya yang memilih untuk terus bekerja, menyumbangkan tenaga demi berdirinya Jembatan Garuda sebagai sasaran dalam TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga.

Dengan ember di tangan, Wanto mengangkut pasir dari satu titik ke titik lain. Berkali-kali ia naik turun, menapaki tanah yang masih licin dan belum rata. Kakinya kotor oleh lumpur, bajunya basah oleh keringat, namun semangatnya seolah tak mengenal kata lelah.

Sesekali, raut wajahnya meringis karena menahan beratnya beban, meski demikian terselip keteguhan. Baginya, pembangunan jembatan bukan sekedar proyek, melainkan sebuah harapan.

“Kalau yang lain estafet batu, saya naik turun bawa pasir pakai ember. Supaya semua material bisa cepat sampai dibawah dan semua bisa cepat dikerjakan nantinya, kalau jembatan ini cepat jadi, maka semakin cepat juga warga disini merasakan kemudahan akses jalan,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Di sekitarnya, tampak warga lain dan Satgas TMMD yang turut bekerja. Di desa itu, kini gotong royong seolah menjadi napas utama pembangunan. Namun, sosok seperti Wanto menghadirkan cerita tersendiri, tentang ketulusan, kerja keras dan dedikasi tanpa pamrih.

Meski ia bukan siapa-siapa di atas kertas. Bukan pejabat ataupun tokoh besar. Tetapi di lapangan, perannya begitu nyata. Setiap butir pasir yang ia angkut menjadi bagian dari fondasi jembatan yang kelak akan dilalui banyak orang.

Sesekali Wanto berhenti sejenak, mengatur napas. Namun tak lama, ia kembali bergerak untuk mengangkat embernya. Seolah ada dorongan dari dalam dirinya untuk terus bergerak, dan memberi.

Program TMMD memang menghadirkan pembangunan fisik, tetapi lebih dari itu TMMD juga turut menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian. Itulah yang terus tumbuh di setiap sudut Desa Krangean, dan sosok Wanto menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan tidak hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses dan orang-orang di dalamnya.

Suatu saat, ketika Jembatan Garuda sudah berdiri kokoh, mungkin tidak banyak orang tahu siapa itu Wanto. Tetapi, jejak dan keringatnya hari ini akan selalu ada dan melekat pada setiap sudut jembatan yang ia bantu dengan sepenuh hati. (Faiza)

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News