Sragen – Jalan tanah yang membelah hamparan sawah di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, siang itu menjadi saksi langkah-langkah penuh makna.
Di bawah terik matahari, Komandan Satgas TMMD Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen, Letkol Inf Dindin Rohidin, S.IP., berjalan bersama anggotanya menyusuri lokasi pembangunan.
Namun kunjungan itu bukan sekadar peninjauan.Lebih dari itu, ada kedekatan yang terjalin, ada dialog yang menghangatkan, dan ada harapan yang perlahan tumbuh di tengah masyarakat.
Di sebuah titik pengerjaan, Dansatgas terlihat duduk bersama warga. Tak ada sekat, tak ada jarak. Dengan bahasa sederhana, ia mendengarkan keluh kesah, menyerap harapan, sekaligus memberi semangat. Warga pun menyambut dengan wajah terbuka seolah menemukan sosok pemimpin yang benar-benar hadir di tengah mereka.
Tak hanya itu, momen haru berubah menjadi kebahagiaan saat fasilitas air bersih hasil program TMMD mulai mengalir.
Anak-anak yang sejak tadi menunggu, tak kuasa menahan kegembiraan. Mereka berlarian, tertawa, dan bermain di bawah guyuran air yang jernih.
Tawa mereka pecah, membasahi suasana dengan kebahagiaan yang tulus. Bagi mereka, air itu bukan sekadar kebutuhan, tetapi hadiah yang selama ini dinanti.
Dansatgas pun tak ragu mendekat, ikut merasakan kebahagiaan itu. Sesekali ia menyapa warga, berjabat tangan, bahkan berbagi senyum dengan anak-anak yang bermain air. Momen sederhana, namun penuh arti bahwa kehadiran TNI bukan hanya membangun, tetapi juga menghidupkan harapan.
“TMMD bukan sekadar program pembangunan, tetapi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ungkap Letkol Inf Dindin Rohidin di sela kegiatan.(Sabtu/02/05/2026)
Kebersamaan itu semakin terasa saat warga dengan sukarela bergotong royong bersama anggota Satgas.
Dari memperbaiki jalan, berdiskusi di lokasi, hingga menikmati kebersamaan di sela pekerjaan semua menyatu dalam satu semangat: membangun desa, membangun masa depan.
Di Desa Puro, TMMD bukan hanya tentang infrastruktur. Ia adalah cerita tentang kedekatan, kepedulian, dan senyum yang kembali merekah.
Dan di antara langkah kaki di jalan tanah itu, tersimpan pesan kuat bahwa pembangunan sejati adalah ketika rakyat merasa ditemani, didengar, dan diperjuangkan.
(faiza)


















