Iklan
Iklan

Ancaman Senyap di Balik Layar, Sinergi Orang Tua dan Ninik Mamak Benteng Terakhir Selamatkan Generasi Minang Menghadang LGBT

SOLOK, 18 Juli, 2026 – Arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital dinilai telah menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat Minangkabau. Melalui media sosial, budaya populer, hingga berbagai platform digital, anak-anak dan remaja kini semakin mudah terpapar beragam informasi, termasuk konten yang dinilai bertentangan dengan nilai agama dan adat.

Pandangan tersebut disampaikan Bedrizal Zandra, mahasiswa pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat sekaligus Sebagai Pengamat yang telah lama mengikuti perkembangan sosial masyarakat, dalam sebuah tulisan reflektif bertajuk “Ancaman Senyap di Balik Layar: Sinergi Orang Tua dan Ninik Mamak, Benteng Terakhir Generasi Minang Menghadang Arus LGBT.”

Menurut Bedrizal, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar pengaruh lingkungan pergaulan secara langsung, tetapi derasnya arus informasi digital yang mampu masuk ke ruang pribadi anak-anak tanpa batas waktu maupun tempat.

“Kini ancaman tidak lagi mengetuk pintu rumah. Ia masuk melalui layar telepon genggam yang setiap hari berada di tangan anak-anak kita,” ujarnya.

Ia menilai, jika tidak diantisipasi dengan baik, paparan berbagai konten digital dapat memengaruhi cara berpikir, karakter, hingga identitas generasi muda.

Bedrizal menegaskan bahwa masyarakat Minangkabau sebenarnya telah memiliki benteng sosial dan spiritual yang kokoh melalui falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Menurutnya, falsafah tersebut menempatkan ajaran Islam sebagai landasan utama dalam kehidupan masyarakat Minang, termasuk dalam membangun karakter generasi muda.

Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah memberikan tanggung jawab besar kepada setiap orang tua untuk menjaga keluarganya sebagaimana termuat dalam Surah At-Tahrim ayat 6.

Selain itu, kisah pendidikan Luqman kepada anaknya menjadi contoh bagaimana nilai tauhid, akhlak, ibadah, serta pendidikan moral harus ditanamkan sejak usia dini melalui pendekatan penuh kasih sayang namun tetap berpegang pada prinsip agama.

Orang Tua Jangan Lepas Tangan
Dalam tulisannya, Bedrizal mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada sekolah maupun lembaga pendidikan.
Menurutnya, keluarga tetap menjadi madrasah pertama yang menentukan arah kehidupan anak.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, sementara lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian mereka.

Karena itu, ia mengajak para orang tua agar tidak hanya mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga aktif berdialog, mendampingi, serta memahami dunia digital yang dijalani anak-anak mereka.

Peran Ninik Mamak Harus Kembali Dihidupkan
Lebih jauh, Bedrizal menilai kekuatan masyarakat Minangkabau terletak pada sistem kekerabatan matrilineal yang memberikan tanggung jawab besar kepada Ninik Mamak dalam membimbing anak kemenakan.
Menurutnya, peran tersebut tidak boleh hanya hadir dalam acara adat ataupun urusan harta pusaka.

“Ninik Mamak harus kembali menjadi pembimbing moral, tempat anak-anak berkonsultasi, sekaligus menjadi pengayom di tengah derasnya perubahan zaman,” tulisnya.

Ia menilai sistem sosial Minangkabau sebenarnya telah memiliki mekanisme pengawasan kolektif yang mampu melindungi generasi muda apabila dijalankan secara optimal.

Bedrizal juga menyoroti sejumlah petatah-petitih Minangkabau yang dinilai masih sangat relevan sebagai pedoman pendidikan karakter.
Di antaranya:
“Anak dipangku, kamanakan dibimbiang”, yang menegaskan tanggung jawab bersama dalam membina generasi.

“Alam takambang jadi guru”, yang mengajarkan pentingnya keteladanan dibanding sekadar nasihat.

“Raso jo pareso”, yang mendorong keseimbangan antara nurani dan akal sehat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi kuat bagi generasi muda dalam menyaring berbagai pengaruh negatif dari luar.

Empat Langkah Strategis
Untuk menghadapi tantangan era digital, Bedrizal menawarkan empat langkah yang perlu dilakukan masyarakat Minangkabau, yakni:

-. Menghidupkan kembali rumah dan surau sebagai pusat pendidikan karakter.
-. Membangun pengawasan digital berbasis dialog antara orang tua dan anak.
-. Menjadikan persoalan generasi muda sebagai agenda musyawarah kaum.
-. Menghadirkan keteladanan nyata dari orang tua dan Ninik Mamak dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pendekatan tersebut jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengedepankan larangan atau kepanikan moral.

Menjaga Masa Depan Ranah Minang
Di akhir tulisannya, Bedrizal menegaskan bahwa tantangan zaman harus dijawab dengan memperkuat ketahanan keluarga, adat, dan nilai keagamaan.

Ia meyakini, apabila orang tua dan Ninik Mamak kembali menjalankan perannya secara aktif, maka masyarakat Minangkabau akan mampu melahirkan generasi yang berakidah kuat, berkarakter, serta tetap teguh memegang identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi.

“Bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi menjaga keberlangsungan martabat peradaban Minangkabau di masa depan,” pungkasnya.**yans

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News