AROSUKA – Sampah di Kabupaten Solok tak lagi sekadar urusan buang dan angkut. Kini, sampah didorong menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus gerakan bersama menjaga lingkungan.
Semangat itu ditandai dengan diluncurkannya dan dikukuhkannya 20 pengurus Forum Bank Sampah Kabupaten Solok di Gedung C, Selasa (1/9/2026).
Forum tersebut disebut sebagai forum bank sampah pertama di Sumatera Barat, yang lahir dari kolaborasi PT Tirta Investama AQUA Solok dan PKBI Sumatera Barat, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Solok.
Mengusung tema “Merdeka dari Sampah: Membangun Ekonomi Sirkular dari Sumber”, forum ini diarahkan menjadi wadah bersama untuk memperkuat jejaring bank sampah, meningkatkan kapasitas pengelola, sekaligus mengurangi sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Asisten I Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Solok, Drs. Zaitul Ikhlas, AP, M.Si, menegaskan persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan pemerintah seorang diri.
Menurutnya, keterbatasan sumber daya pemerintah justru harus dijawab dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi dan masyarakat.
“Dunia usaha dan NGO dapat menjadi mitra pemerintah dalam menggerakkan masyarakat, memperkuat kelembagaan, meningkatkan kapasitas dan menghadirkan inovasi,” ujarnya.
Hingga 2026, Kabupaten Solok telah memiliki 1 Bank Sampah Induk (BSI) dan 11 Bank Sampah Unit (BSU) yang aktif melakukan pemilahan, pengumpulan dan pemanfaatan sampah. Namun, potensi tersebut dinilai masih membutuhkan penguatan koordinasi agar gerakan bank sampah tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kepala Pabrik AQUA Solok, Deden, mengatakan forum diharapkan menjadi ruang bersama untuk menyatukan visi dan memperkuat kelembagaan.
“Forum ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas kelembagaan, membangun komunikasi antarbank sampah serta berkontribusi dalam menurunkan volume sampah yang dibuang ke TPA,” katanya.
Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), AQUA Solok turut mendukung pengembangan bank sampah dan pemberdayaan masyarakat.
Sementara PKBI Sumatera Barat berperan dalam penguatan kelembagaan, edukasi kesehatan lingkungan, pemberdayaan komunitas serta membangun kolaborasi multipihak.
Sekretaris Pengurus PKBI Sumatera Barat, Firdaus Jamal, menilai gerakan bank sampah bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga perubahan perilaku dan penciptaan nilai ekonomi.
Dengan pengelolaan yang tepat, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat menjadi sumber manfaat bagi masyarakat.
Pengukuhan forum juga diisi talkshow yang menghadirkan tiga perspektif, yakni pemerintah, dunia usaha dan akademisi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Solok Asnur, membahas kebijakan dan kolaborasi menuju Solok bebas sampah. Program Manager Susdev Danone Indonesia mengulas praktik ekonomi sirkular dan tanggung jawab dunia usaha.
Sementara akademisi Teknik Lingkungan Universitas Andalas membahas peran masyarakat, inovasi dan praktik pengelolaan sampah dari sumber.
Dengan terbentuknya forum tersebut, Kabupaten Solok kini memiliki peluang menjadi contoh gerakan bank sampah berbasis kolaborasi di Sumatera Barat.
Sebab, kunci pengelolaan sampah bukan hanya seberapa banyak sampah yang mampu diangkut, tetapi seberapa banyak yang berhasil dikurangi dan dikelola sejak dari sumbernya.
Dari Solok, gerakan itu dimulai: sampah dikurangi dari sumber, dikelola bersama, lalu diubah menjadi nilai ekonomi.**yans





























