LUBUK BASUNG — Tiga bulan menimba ilmu, mengasah hafalan, sekaligus menempa adab di Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi (PADI) Lubukbasung, akhirnya bermuara pada sebuah momen penuh haru dan kebahagiaan.
Jumat (11/9/2026), para santri dijemput ayah dan bunda untuk kembali ke rumah. Namun, kepulangan itu bukan sekadar meninggalkan pondok untuk sementara. Ada ilmu yang dibawa, hafalan yang harus dijaga, adab yang mesti diamalkan, serta pesan untuk tetap menjadikan Alquran sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
Suasana Mushala Raudatul Jannah, Talago, Lubukbasung, tampak semarak. Senyum dan kebahagiaan terpancar dari wajah para santri maupun orang tua yang telah menantikan pertemuan tersebut.
Momen perpulangan menjadi bagian penting dari proses pendidikan di PADI. Setelah selama tiga bulan menjalani pembinaan di lingkungan pesantren, para santri kembali ke tengah keluarga dengan membawa bekal yang diharapkan tidak berhenti di lingkungan pondok, tetapi terus tumbuh dan diamalkan di rumah.
Kegiatan tersebut dihadiri Pimpinan Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi Lubukbasung, Ayah Hasneril, tim pondok, dewan guru, muhadib dan muhadibah, para wali santri, serta seluruh santri.
Dalam kesempatan itu, Tim Pondok PADI, Ustazah Sri Dismayanti, menyampaikan penyelarasan kepada para wali santri terkait perkembangan anak sekaligus perkembangan Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi.
Sridismayati mengingatkan orang tua agar tidak menuntut perubahan secara instan setelah anak kembali ke rumah. Menurutnya, pembentukan karakter membutuhkan proses, kesabaran, keteladanan, serta kesinambungan pembinaan antara pondok dan keluarga.
“Jangan kecewa kepada anak ketika sampai di rumah karena belum ada perubahan yang signifikan. Ayah dan bunda selama 13 tahun mendidik, sedangkan kami di pondok baru beberapa bulan. Tentu tidak mungkin langsung berubah. Semua membutuhkan proses, tahapan, dan kerja sama antara orang tua dengan pondok,” ujar yanti
Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses panjang. Pondok memberikan pembinaan, sementara keluarga memiliki peran besar untuk menjaga sekaligus melanjutkan kebiasaan baik yang telah ditanamkan selama anak berada di pesantren.
Penguatan peran keluarga juga disampaikan Ustaz Fadli, guru tahfiz Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi, melalui ceramah agama bertema “Pondasi Rumah Alquran: Strategi Mendampingi Anak Menjadi Penghafal Alquran.”
Ustaz Fadli mengajak para orang tua untuk menjadi teladan sekaligus pendamping utama bagi anak dalam menjaga hafalan dan kebiasaan baik setelah kembali ke rumah.
“Orang tua adalah contoh bagi anak. Jadi, tunjukkanlah yang terbaik untuk anak. Sampai di rumah, pantau dan awasi anak kita. Ingatkan anak kita. Mari bimbing anak-anak kita supaya mereka tidak lalai,” pesannya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi Lubukbasung, Ayah Hasneril, memberikan pesan mendalam kepada seluruh santri agar kepulangan ke rumah tidak membuat mereka melupakan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama berada di pondok.
Ia menekankan bahwa ilmu harus berjalan beriringan dengan adab. Santri juga diingatkan untuk tetap menjaga ibadah, hafalan Alquran, serta hubungan baik dengan orang tua dan guru.
“Santri, di rumah juga harus menjaga adab seperti di pondok. Ingat, ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah. Bawalah adab ke mana pun kalian pergi,” pesan Ayah Hasneril.
Ia juga mengingatkan santri untuk menjaga salat tepat waktu dan tidak meninggalkan murajaah meskipun berada di rumah.
“Jaga adab kepada Allah dengan melaksanakan salat tepat waktu dan tetap melakukan murajaah walaupun di rumah. Jaga adab kepada orang tua dengan membantu dan bertutur kata lembut. Jaga adab kepada guru dengan mendoakannya,” lanjutnya.
Menurut Ayah Hasneril, keberhasilan seorang santri tidak semata-mata diukur dari banyaknya hafalan atau ilmu yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut membentuk perilaku dan akhlaknya.
“Santri yang beradab, di mana pun berada, pasti dimuliakan Allah,” ujarnya.
Pesan yang tak kalah penting adalah menjaga hubungan dengan Alquran. Meski untuk sementara waktu berada jauh dari pondok, para santri diminta tetap menjaga hafalan dan rutinitas murajaah.
“Jaga hafalan dan ilmu. Jangan putus murajaah. Rumah boleh jauh dari pondok, tetapi Alquran jangan sampai jauh dari hati,” pesannya.
Para santri juga diingatkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan bagian dari pengamalan ilmu sekaligus ladang pahala.
“Berbaktilah kepada orang tua. Ringankan pekerjaan orang tua di rumah. Itu merupakan ladang pahala yang besar bagi kalian,” tambahnya.
Dari PADI Lubukbasung Menuju PADI Pusat
Di balik perjalanan pembinaan para santri, PADI Lubukbasung juga terus membangun hubungan dan koordinasi dengan Pondok PADI pusat di Kalimantan Selatan. Sinergi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan pendidikan dan pembinaan santri.
Sebagai pimpinan Pondok PADI Lubukbasung, Ayah Hasneril menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Abi Syarbaini, Pimpinan Pondok PADI Pusat di Kalimantan Selatan, yang selama ini telah memberikan ilmu, arahan, sekaligus semangat kepada jajaran PADI Lubukbasung dalam menjalankan amanah memimpin dan mengembangkan pondok.
Dukungan tersebut tidak hanya dirasakan dalam bentuk pembinaan dan koordinasi, tetapi juga membuka kesempatan lebih luas bagi para santri PADI Lubukbasung untuk melanjutkan pendidikan.
Saat ini, empat santri lulusan Pondok PADI Lubukbasung mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan mondok di Pondok PADI Pusat, Kalimantan Selatan.
“Sebagai pimpinan Pondok PADI Lubukbasung, kami mengucapkan terima kasih kepada Abi Syarbaini, Pimpinan Pondok PADI Pusat di Kalimantan Selatan, yang telah banyak memberikan ilmu dan semangat kepada kami untuk terus berjuang memimpin dan mengembangkan Pondok PADI Lubukbasung,” ungkap Ayah Hasneril.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para abah dan guru-guru di Pondok PADI Pusat yang selama ini menjadi tempat berkoordinasi, berdiskusi, sekaligus mendapatkan arahan dalam pengembangan pondok.
“Alhamdulillah, saat ini ada empat santri lulusan PADI Lubukbasung yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Pondok PADI Pusat di Kalimantan Selatan. Ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan santri,” tambahnya.
Bagi PADI Lubukbasung, kesempatan tersebut bukan sekadar pencapaian, tetapi juga menjadi bukti bahwa ikhtiar membangun pendidikan Alquran dapat membuka jalan yang lebih luas bagi masa depan para santri.
Rangkaian perpulangan akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjadi titik jeda untuk melihat kembali proses tiga bulan pembinaan sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika santri keluar dari gerbang pondok.
Para santri diharapkan kembali ke rumah dengan semangat baru untuk mengamalkan ilmu, menjaga adab, mempertahankan hafalan, berbakti kepada orang tua, serta terus mendekatkan diri kepada Alquran.
Ayah Hasneril pun menitipkan doa agar seluruh santri dapat kembali ke rumah dengan selamat dan kembali ke pondok pada Selasa mendatang dengan semangat yang lebih kuat.
“Semoga para santri selamat sampai di rumah dan kembali ke pondok pada hari Selasa dengan semangat baru, iman yang bertambah, dan hafalan yang tetap terjaga. Aamiin,” tutupnya. Daji








