Batam, dutametro.com – Operasi gabungan di Tembak Langit Club, Harbour Bay, Minggu (30/8/2026) dini hari, kini menyisakan tanda tanya besar. Penindakan yang melibatkan sembilan instansi tersebut disebut mengamankan dua truk bermuatan minuman beralkohol (mikol) dalam jumlah besar. Namun, hingga kini, publik mempertanyakan kejelasan status barang yang diamankan dan tindak lanjut proses hukumnya.
Keheningan setelah operasi tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan serius. Ke mana dua truk mikol yang diamankan itu dibawa? Apakah telah ditetapkan sebagai barang bukti dan diproses sesuai ketentuan hukum, atau masih berada dalam penguasaan instansi tertentu?
Tidak adanya informasi terbuka mengenai jumlah barang yang diamankan, identitas pemilik, status hukum barang, serta tindak lanjut penanganannya berpotensi menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Penyitaan Besar, Transparansi Dipertanyakan
Dua truk yang disebut mengangkut mikol dalam jumlah besar menjadi salah satu sorotan utama operasi. Jika benar barang tersebut telah diamankan, masyarakat berhak mengetahui bagaimana prosedur pengamanan dan pencatatan barang dilakukan.
Apakah barang tersebut telah dibuatkan berita acara penyitaan? Instansi mana yang bertanggung jawab? Apakah terdapat proses pemeriksaan terhadap pemilik atau pihak yang menguasai barang tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting dijawab agar tidak muncul dugaan bahwa barang hasil penindakan justru tidak jelas keberadaannya.
Penertiban atau Sekadar Gertak?
Operasi gabungan semestinya tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan dan penyisiran tempat hiburan malam. Penindakan harus diikuti dengan proses hukum yang transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jika terdapat pelanggaran terkait peredaran minuman beralkohol, masyarakat tentu berharap seluruh proses berjalan sesuai aturan, mulai dari pengamanan barang, pemeriksaan pihak terkait, penetapan status barang bukti, hingga penyampaian hasil penindakan.
Sebaliknya, apabila proses tersebut berhenti tanpa kejelasan, publik berhak mempertanyakan efektivitas operasi dan akuntabilitas aparat yang terlibat.
Integritas Aparat Turut Dipertaruhkan
Bungkamnya instansi terkait setelah operasi juga menjadi persoalan tersendiri. Ketika sebuah operasi melibatkan banyak lembaga dan menghasilkan penindakan terhadap barang dalam jumlah besar, semestinya ada penjelasan resmi kepada masyarakat.
Ketiadaan informasi justru membuka ruang munculnya berbagai dugaan, termasuk isu adanya permainan di balik penindakan. Dugaan tersebut tentu harus dibuktikan melalui fakta dan pemeriksaan yang objektif, bukan sekadar berdasarkan spekulasi.
Operasi “Waspada Wira Garuda” tersebut dipimpin Dansatpom Lanud Hang Nadim, Kapten POM Yose Rizal, dengan melibatkan 41 personel gabungan dari sembilan instansi. Mereka terdiri atas Satpom Lanud, Denpom AD, POM AL, Provost Polri, Bea Cukai, BNN, Satpol PP, Imigrasi, hingga Disbudpar.
Sebanyak tujuh tempat hiburan malam disisir dalam operasi tersebut, mulai dari Helen’s Night Mart hingga Tembak Langit Club.
Besarnya kekuatan personel dan banyaknya instansi yang terlibat semestinya berbanding lurus dengan keterbukaan informasi kepada publik. Tim





























