Iklan
Iklan

TMMD Manfaatkan Potensi Alam, RTLH Misdi Beratap Bambu Krangean

PURBALINGGA — Siang itu, angin pelan menyusup di antara rumpun bambu yang tumbuh subur di Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara. Tak jauh dari sana, sebagian batangnya telah berpindah tempat, dipotong, dipanggul, lalu disandarkan di sisi rumah milik Misdi yang tengah dibangun dalam program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga. Dari alam, bambu-bambu itu kini mengambil peran baru, yakni menjadi atap bagi sebuah harapan.

Di lokasi pembangunan RTLH milik Misdi, suara ketukan dan gesekan bambu berpadu dengan canda ringan warga dan Satgas. Batang demi batang diukur, diraut, lalu dirangkai menjadi kerangka atap.

Krangean bukan desa yang kekurangan sumber daya. Desa itu dikelilingi banyak pepohonan seperti bambu dan kelapa, alam di sekitarnya telah lama menjadi bagian dari hidup warga. Namun di tangan-tangan pekerja hari itu, kekayaan tersebut diolah menjadi sesuatu yang lebih bermakna, menjadi bagian dari rumah yang akan melindungi Misdi dan keluarganya.

Sertu Riyadi, anggota Satgas TMMD Kodim 0702/Purbalingga, menyebut pemanfaatan bahan alami ini bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat, bambu juga memiliki kekuatan yang cukup untuk menunjang konstruksi, selama diolah dengan tepat.

“Potensi alam di sini sangat mendukung. Bambu banyak, kelapa juga ada. Jadi kita manfaatkan untuk pembangunan, apalagi untuk rangka atap seperti ini cukup kuat dan efisien,” ungkapnya, Minggu (3/5/2026).

Di sela pekerjaannya, tampak warga dan Satgas saling berbagi peran. Ada yang memotong bambu dari kebun, ada yang memanggul bambu yang sudah diambil dari kepun dan ada yang merangkainya di atas rangka rumah. Tak ada yang benar-benar diam. Semua bergerak dalam irama yang sama, seolah memahami bahwa rumah ini tak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh kebersamaan.

Bagi Misdi, setiap batang bambu yang terpasang bukan sekadar penopang atap. Ia adalah tanda bahwa rumahnya dibangun dari kepedulian. Dari alam yang memberi, dan dari manusia yang mau saling membantu.

Perlahan, rangka atap itu mulai terbentuk utuh. Dari kejauhan, ia tampak sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang bagaimana sesuatu yang tumbuh liar di alam bisa berubah menjadi bagian penting dari kehidupan.

Di Desa Krangean, bambu tak lagi hanya bergoyang mengikuti angin. Lebih dari itu kini ia berdiri lebih kokoh, menjadi atap, menjadi pelindung, dan menjadi saksi bahwa dari alam yang dijaga, lahir harapan yang nyata.(faiza)

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News