Jakarta, Dutametro.com – Akibat bentrokan yang terjadi antara kelompok etnis di kamp perlindungan sipil Sudan Selatan telah menyebabkan 13 orang tewas. Sementara dilaporkan sebanyak 20 lainnya terluka.
Kemudian dilansir AFP, Sabtu (10/6/2023), Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun dari komunitas Shilluk ditikam sampai tewas pada hari Kamis (8/6). Selanjutnya hal ini memicu kekerasan antarkomunal di kamp Malakal di Sudan Selatan.
Selain menewaskan 13 orang dan melukai 20 orang. Bentrokan ini juga menangguhkan transportasi umum.
Bahkan OCHA menambahkan bahwa kegiatan kemanusiaan di kamp terhambat karena ketidakamanan.
Wilayah Sudan Selatan memperoleh sedikit stabilitas sejak memperoleh kemerdekaan dari Sudan pada tahun 2011. Akan tetapi, perang saudara mengoyak negara termuda di dunia itu antara 2013 dan 2018, menyebabkan lebih dari 350.000 orang tewas, sementara bencana alam juga melanda negara itu.
Sedangkan presiden Salva Kiir dan saingannya Riek Machar membentuk pemerintahan transisi dan setuju untuk menyatukan angkatan bersenjata mereka untuk mengakhiri konflik.
Walaupun demikian kekerasan bersenjata terus berlanjut dan mayoritas penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan meskipun memiliki cadangan minyak yang besar.
Sementara itu misi PBB di Sudan Selatan adalah salah satu misi yang paling mahal, dengan anggaran tahunan lebih dari $1 miliar dan pengerahan 17.000 tentara.(H.A)























