BUKITTINGGI ,dutametro.com.- Peringatan 100 Tahun Jam Gadang resmi ditutup Minggu 21/6/2026 dengan suasana penuh kebersamaan di pelataran ikon Kota Bukittinggi. Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan pedestrian untuk mengikuti rangkaian acara puncak, mulai dari sarapan gratis hingga festival kuliner tradisional khas Minangkabau.
Jam Gadang yang dibangun 20 Juni 1926 kini menjelang usia satu abad. Selama 100 tahun, menara jam di jantung Kota Bukittinggi tidak hanya menjadi penunjuk waktu, tetapi juga saksi perjalanan sejarah dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan pariwisata modern Sumatera Barat.

Sebelum puncak penutupan, rangkaian peringatan berlangsung semarak selama beberapa hari. Sabtu 20/6/2026, Pemko Bukittinggi bersama Kementerian Kebudayaan RI menggelar Seminar Internasional di Balai Sidang Kota Bukittinggi. Seminar mengangkat peran historis Bukittinggi sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias dalam sambutannya menegaskan sejarah Jam Gadang harus jadi modal diplomasi, bukan sekadar kenangan. Ia mengusulkan kerja sama arsip digital dan museum virtual bersama Belanda. “Sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi pelajaran berharga sekaligus modal dalam membangun hubungan diplomasi dengan berbagai negara, termasuk Belanda,” ujarnya.

Rangkaian dilanjutkan dengan diskusi sejarah, pertunjukan seni budaya, hingga festival kuliner tradisional gratis yang disambut antusiasme tinggi warga dan perantau Minangkabau.
“Memasuki hari penutupan, suasana meriah sempat diwarnai ketegangan. Minggu pagi, saat Wali Kota Ramlan Nurmatias mengunjungi kegiatan sarapan gratis bagi masyarakat dan wisatawan di kawasan pedestrian Jam Gadang, mikrofon yang akan digunakan ternyata belum siap. Di hadapan ribuan warga yang sudah memadati lokasi sejak pagi, orang nomor satu di Bukittinggi itu melontarkan teguran keras. “Mana mic-nya?” tanyanya kepada panitia.

Ketegangan itu segera cair. Acara puncak tetap berlangsung meriah dan menjadi penutup rangkaian peringatan satu abad Jam Gadang. Festival Kuliner Tradisional menghadirkan puluhan ribu porsi makanan khas Minangkabau. Momen paling berkesan terjadi saat masyarakat duduk dalam satu meja panjang tanpa membedakan status sosial maupun latar belakang.

“Wali Kota Ramlan Nurmatias menyebut penutupan perayaan satu abad Jam Gadang dikemas sebagai pesta rakyat yang merangkul seluruh lapisan masyarakat. Banyak pihak menilai keberhasilan acara tidak terlepas dari kemampuannya mengorkestrasi kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan perantau Minangkabau.
Dengan berakhirnya rangkaian acara HUT Jam Gadang yang ke 100 tahun ini.
Menara jam gadang kembali berdiri megah sebagai simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan pengingat bahwa sejarah adalah modal untuk masa depan.

Sekalipun diawal penutupan Wako Bukittinggi Ramlan Nurmatias, agak merasa tegang dengan kelalaian petugasnya, diperjalanan acara penutupan ini akhirnya berbuah ceria dan gembira, melihat masa yang tumpah ruah menikmati hiburan yang disuguhkan pada siang harinya , Wako merasa puas dihari akhir waktu penutupan HUT jam gadang yang ke 100 tahun ini.
(Zlk)*






















