JAKARTA ,dutametro.com – Nama Brigjen TNI Muhammad Nas mendadak menjadi sorotan publik setelah aksi heroiknya meredam ketegangan massa di ibu kota. Jenderal bintang satu yang menjabat sebagai Asisten Intelijen (Asintel) Kaskostrad ini membuktikan bahwa pendekatan humanis dan tenang mampu menjadi solusi di tengah situasi memanas.
Putra Daerah Asal Nagari Gadut
Brigjen TNI Muhammad Nas merupakan putra asli Minangkabau yang lahir di Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, pada 8 Juni 1975. Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya untuk menuntut ilmu di kampung halaman:
– SMP Negeri 1 Tilatang Kamang– Lulus tahun 1991
– SMA Negeri 1 Tilatang Kamang – Lulus tahun 1994
Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, ia memantapkan langkah untuk mengabdi kepada negara melalui jalur militer. Muhammad Nas berhasil lulus dari Akademi Militer (Akmil) pada tahun 1998 dan memulai perjalanan panjang karier militernya.
Aksi Menyejukkan di Tengah Massa
Aksi nyata Brigjen Nas yang viral terjadi pada Jumat, 29 Agustus 2025. Saat itu, ribuan pengemudi ojek online (ojol) melakukan aksi unjuk rasa di depan Markas Brimob, Kwitang, Jakarta Pusat. Situasi yang sempat memanas berhasil ia kendalikan dengan turun langsung menemui massa.
Tanpa jarak, sang jenderal berdiri di hadapan para pendemo, mendengarkan tuntutan terkait transparansi kasus hukum rekan mereka, serta memberikan jaminan sebagai penengah. Sikapnya yang lugas namun menyejukkan membuat massa luluh dan bersedia membubarkan diri dengan tertib. Momen haru tercipta saat perwakilan pengemudi ojol mengucapkan terima kasih atas kehadirannya yang mencegah bentrokan dan jatuhnya korban.
Karier Gemilang di Kostrad
Sebagai perwira tinggi di lingkungan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), jabatan Asintel Kaskostrad merupakan posisi strategis yang menuntut ketajaman analisis dan kemampuan komunikasi yang baik. Keberhasilannya meredam aksi massa di Jakarta menjadi bukti nyata dari kompetensi tersebut.
Karier Muhammad Nas yang kini mencapai pangkat jenderal bintang satu menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda di Agam dan Sumatera Barat. Kisahnya membuktikan bahwa kerja keras dan dedikasi dari sekolah di nagari pun bisa membawa seseorang mencapai puncak kepemimpinan di institusi TNI.

















