Jumat, April 19, 2024

Strategi Apakah Yang Dipakai Donald Trump Guna Hindari Penahanan Dalam Kasus Uang Tutup Mulut?

Must read

Washington DC, Dutametro.com – Kemungkinan Donald Trump akan ditahan pekan ini belum menjadi kenyataan. Ketika orang-orang menunggu tuntutan kriminal itu, Trump telah merancang strategi yang dapat menghindarkannya dari penjara sekaligus mempercepat ambisinya kembali ke Gedung Putih.

Ini adalah tugas yang berat, dan duduk menunggu di kediamannya di Mar-a-Lago, Trump tampaknya pasrah bila ia harus menjadi presiden AS pertama yang didakwa secara hukum.

Namun jelas, Trump tidak akan jatuh tanpa perlawanan.

Apa yang dilakukan Trump di masa lalu saat dihadapkan pada krisis politik bisa menjadi gambaran berguna untuk apa yang mungkin kita lihat selanjutnya.

Saat terpojok oleh musuh-musuh politiknya, Trump membalas dengan keras.

Selama kampanye pemilihan presiden pada 2016, Trump cenderung menyukai konflik ketika politisi lainnya memilih untuk menjauh.

Dikecam karena mengkritik pahlawan perang John McCain? Trump meningkatkan serangannya.

Dituduh dengan isu kekerasan seksual sebelum debat dengan Hillary Clinton? Dia menggelar konferensi pers dengan orang yang menuduh Bill Clinton melakukan pelecehan seksual.

Selama masa pemerintahannya, respons Trump terhadap krisis pun sama.

Baik ketika Trump melalui dua kali usaha pemakzulan, penyelidikan penasihat khusus soal campur tangan Rusia dalam pemilu, dan kontroversi-kontroversi kecil tak terhitung lainnya.

“Jika Trump akhirnya didakwa, sikapnya akan tetap sama,” kata Bryan Lanza, ahli strategi dari Partai Republik dan penasihat bagi Trump. “Serang legalitas ini sebagai gerakan politis.”

Strategi bertahan yang baik, seperti pepatah dalam sepak bola, adalah strategi menyerang yang bagus.

Trump sudah melawan Jaksa Penuntut Distrik Manhattan Alvin Bragg.

Dia menyebut Bragg sebagai penuntut liberal yang bertekad melancarkan balas dendam politik terhadap mantan presiden.

Dalam pernyataan kepada media, Senin, Trump merujuk Bragg sebagai “aktivis progresif”, “jaksa yang nakal” dan “tiran yang sadar masalah sosial yang telah mempolitisasi sistem peradilan”.

Serangan-serangan ini niscaya akan terus berlanjut bila penahanan atas Trump diumumkan, dan dia akan menempatkan diri sebagai korban dari plot jahat kaum kiri – tema standar soal persekusi yang selalu dipakai Trump selama karier politiknya.

Menurut Maggie Haberman dari New York Times, mantan presiden ini “bersemangat sekaligus marah” atas kemungkinan penahanannya.

Dia fokus untuk tampil menantang di setiap penampilan publiknya dan siap untuk menuduh kasus kriminal terhadapnya ini sebagai serangan kepada para pendukungnya.

Mantan presiden ini setidaknya akan memiliki dua kesempatan besar untuk melancarkan  strategi serangan baliknya dalam beberapa hari ke depan.

Salah satunya adalah kampanye di Waco, Texas.

Dan menilik dari yang sudah-sudah, Trump selalu tanpa tedeng aling-aling saat berkampanye, kerap keluar dari naskah pidato yang sudah disiapkan, dan memberi kobaran energi untuk para pendukungnya yang berapi-api.

Kesempatan lain buat Trump, jika benar dia dituntut, akan hadir di hari ketika dia datang ke Kota New York untuk berurusan dengan polisi.

Menurut Haberman, Trump mengincar apa yang disebut dengan “menggiring pesakitan” atau “perp walk” yakni tradisi New York di mana terdakwa digiring dalam parade melalui sekelompok reporter di sepanjang Lower Mahattan menuju pengadilan.

Namun karena alasan keamanan, ini mungkin tidak akan terjadi, namun masih ada tradisi yudisial lain, yakni konferensi pers di tangga pengadilan, yang kemungkinan besar akan dilaksanakan.

Ini akan memberikan mantan presiden ini drama legal di tabloid New York, kesempatan untuk menyerang balik penuduhnya, menggambarkan diri sebagai korban dari elite liberal dan mendominasi tajuk pemberitaan di seluruh AS.

Strategi seperti ini sudah tampak dalam kampanye penggalangan dana Trump, yang belakangan semakin gencar setelah dia memperkirakan bahwa dirinya di ambang tuntutan kriminal.

“Jika persekusi politis ini tidak dilawan, suatu hari bukan saya yang menjadi targetnya, tetapi Anda,” tulis salah satu email.

Menurut seorang penasihat Trump kepada Washington Post, kampanye ini telah menggalang dana lebih dari US $1,5 juta (Rp22,6 miliar) sejak Sabtu.

Pada saat ini, respons standar dari politisi Partai Republik – termasuk Ketua Parlemen Kevin McCharty dan sejumlah politisi lainnya – mendukung Trump.

Mereka menggaungkan kembali retorika Trump yang mengutuk investigasi penegak hukum New York sebagai serangan politik yang tidak sah.

“Saya telah ditanya oleh beberapa reporter apakah penahanan ini akan membuat saya menarik dukungan dari Donald Trump,” kata Senator Ohio JD Vance.

“Jawabannya adalah: tentu saja tidak. Persekusi yang dilatari politik membuat argumen mendukung Trump semakin kuat. Kita tidak akan punya negara sebenarnya jika keadilan dibuat berdasarkan politik.”

Meski demikian, strategi ini cukup lemah bagi rival-rival politik Trump di Partai Republik, yang mungkin harus berusaha keras untuk mencuri kembali sorotan publik dari mantan presiden itu.

Akan tetapi, di jangka panjang, situasi Trump ini bukannya tak berisiko.

Jika kemungkinan pendakwaan dan hukuman penjara dikesampingkan, masalahnya dengan hukum yang melampaui yurisdiksi New York dan termasuk investigasi oleh penegak hukum di Georgia dan dewan khusus federal adalah salah satu karakter Trump yang paling tidak disukai oleh pendukung Partai Republik.

Strategi ini juga bisa menjadi distraksi besar bagi Trump dan tim suksesnya, yang harus bereaksi terhadap peristiwa di New York yang sama sekali tidak bisa mereka kendalikan.

Jadwal persidangan bisa saja bentrok dengan jadwal debat Partai Republik atau acara-acara kampanye penting lain di kalender Trump.

Dan jika strategi Trump ini bisa mengatasi masalah ini kemudian memenangkan nominasi dari Partai Republik, jejak masalah legalnya kemungkinan besar menjadi komponen negatif saat harus bersaing dengan kandidat dari Partai Demokrat.

“Pada akhirnya, menjadi terdakwa tidak membantu siapa pun,” ujar mantan Gubernur New Jersey Chris Christie dalam wawancara dengan ABC News.

“Donald Trump bukanlah seseorang yang bisa menjadi kandidat pemenang pemilihan umum untuk Partai Republik.”

Trump memang telah selamat dari berbagai skandal dan penyelidikan selama delapan tahun terakhir, yang tak diragukan lagi akan menghancurkan kandidat lain.

Tapi keberuntungan bisa habis dan bahkan naluri politik terbaik pun bisa gagal ketika keadaan berubah. Bahkan kapal yang paling kuat sekalipun bisa karam di perairan yang belum dipetakan.(H.A)

More articles

IklanIklanIklan HuT RI

Latest article