Padang – Di tengah derasnya arus revolusi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mulai mengubah wajah dunia, satu pertanyaan besar muncul di tengah masyarakat, apakah demokrasi masih mampu berjalan sehat ketika teknologi dapat menciptakan suara, gambar, bahkan opini palsu yang nyaris tak bisa dibedakan dari kenyataan?
Pertanyaan itulah yang menjadi ruh utama dalam kegiatan Pendidikan Politik Bagi Tokoh Masyarakat Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Barat di Hotel Rocky Padang, pada 18–20 Mei 2026.
Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni pendidikan politik biasa. Menjelma menjadi ruang dialog intelektual tentang masa depan demokrasi di era kecerdasan buatan, ketika masyarakat dituntut tidak hanya melek politik, tetapi juga melek teknologi.
Dalam kegiatan itu, nama Supri Ardi, S.Kom., M.I.Kom, kembali menjadi perhatian. Penggiat media sosial berbasis AI asal Sumatera Barat tersebut kembali dipercaya menjadi narasumber utama dengan materi bertajuk:
“AI dan Masa Depan Politik: Memahami Peran, Tanggung Jawab, dan Strategi Menghadapi Tantangan Politik di Era Digital”
Kehadiran Supri Ardi di forum tersebut menunjukkan satu realitas baru: bahwa dunia politik hari ini tidak lagi hanya ditentukan oleh pidato di podium, baliho di jalanan, atau kampanye tatap muka semata. Politik kini bergerak di ruang digital cepat, liar, tanpa batas, dan sering kali tanpa filter moral.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh penting Sumatera Barat, di antaranya:
-. Prof. Dr. Asrinaldi, M.Si : Guru Besar Ilmu Politik Universitas Andalas
-. Mursalim, AP., M.Si : Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Barat
-. Muhammad Ilham Akbar, S.Psi., C.H., C.Ht : Praktisi dan Motivator Nasional
-. Aschari Cahyaditama, S.STP., M.Soc.Sc., Ph.D : Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol Sumbar
-. H. Muzli M. Nur, S.Pd : Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat
Kegiatan tersebut diikuti oleh tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, dan unsur masyarakat dari Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian materi.
Dalam pemaparannya, Supri Ardi menegaskan bahwa dunia telah memasuki fase baru peradaban digital. AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia.
“Dulu orang berpikir AI hanya ada di film-film. Hari ini AI sudah masuk ke ruang politik, media sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan cara manusia mengambil keputusan,” ujar Supri Ardi di hadapan peserta.
Supri menjelaskan bahwa kecerdasan buatan kini mampu menciptakan tulisan, gambar, video, suara, hingga simulasi percakapan manusia dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Dalam konteks politik, teknologi ini bisa menjadi alat pendidikan demokrasi yang luar biasa, namun di sisi lain juga dapat berubah menjadi senjata propaganda yang sangat berbahaya.
Tantangan terbesar masyarakat hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan banjir informasi yang sulit dibedakan mana fakta dan mana manipulasi.
“Di era AI, kebohongan bisa terlihat lebih meyakinkan daripada kebenaran,”
Pernyataan itu sontak membuat ruangan hening. Sebab apa yang disampaikan Supri bukan sekadar teori, tetapi sesuatu yang kini mulai nyata terjadi di berbagai belahan dunia.
Dalam sesi materi, Supri Ardi juga membahas ancaman nyata teknologi AI terhadap demokrasi modern.
Memaparkan bagaimana teknologi deepfake kini mampu menciptakan video dan suara palsu tokoh publik dengan kualitas sangat meyakinkan. Teknologi itu dapat digunakan untuk menjatuhkan lawan politik, membentuk opini publik, hingga memicu konflik sosial.
“Bayangkan jika suatu hari muncul video seorang tokoh agama atau kepala daerah mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia katakan. Dalam hitungan menit, video itu bisa menyebar ke ribuan grup WhatsApp dan media sosial,” jelasnya.
Supri juga menyinggung fenomena propaganda otomatis melalui bot dan algoritma media sosial yang mampu menggiring emosi masyarakat secara sistematis.
Menurutnya, masyarakat yang tidak memiliki literasi digital akan sangat mudah dipengaruhi oleh konten manipulatif.
“Perang politik hari ini bukan lagi hanya perang gagasan, tapi perang algoritma,” tegasnya.
Supri menolak melihat AI sebagai ancaman semata. Ia justru menilai teknologi tersebut dapat menjadi peluang besar apabila dimanfaatkan dengan bijak.
Dalam forum, Supri Ardi menjelaskan bahwa AI juga memiliki potensi luar biasa dalam memperkuat demokrasi.
Teknologi AI dapat membantu masyarakat memperoleh akses pendidikan politik lebih cepat, luas, dan efisien.
Melalui AI, masyarakat dapat memahami regulasi, mengenal calon pemimpin, mempelajari program pembangunan, hingga mengakses pelayanan publik secara lebih mudah.
“AI bisa membantu demokrasi menjadi lebih inklusif jika digunakan dengan hati nurani,” ujarnya.
Menambahkan bahwa tokoh masyarakat Minangkabau harus mampu menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurutnya, budaya Minangkabau yang menjunjung musyawarah, adab, dan marwah sosial sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk menghadapi era digital yang penuh kegaduhan.
“Jangan sampai teknologi membuat kita kehilangan jati diri sebagai urang Minang yang badunsanak,” katanya.
Banyak peserta terlihat aktif bertanya, terutama terkait cara mengenali hoaks, ancaman penipuan digital, hingga dampak AI terhadap generasi muda.
Salah seorang peserta bernama Weni, mengaku materi tersebut membuka wawasan baru baginya.
“Kami baru tahu ternyata AI bisa membuat video palsu yang sulit dibedakan. Materi seperti ini sangat penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini masyarakat hanya menggunakan media sosial sebagai sarana hiburan tanpa memahami ancaman di balik perkembangan teknologi digital.
Peserta lain bahkan berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan hingga ke tingkat nagari dan sekolah.
Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Barat, Mursalim, AP., M.Si, menegaskan bahwa pendidikan politik hari ini harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Demokrasi modern tidak lagi bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi.
“Kita tidak ingin masyarakat menjadi korban manipulasi informasi. Karena itu pendidikan politik harus diperkuat dengan literasi digital,”
Keterlibatan narasumber muda seperti Supri Ardi menjadi energi baru dalam pendidikan politik di Sumatera Barat.
Mursalim mengatakan pendekatan kepada masyarakat kini tidak cukup lagi menggunakan pola-pola lama. Dibutuhkan bahasa yang relevan dengan perkembangan generasi digital saat ini.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Andalas, Prof. Dr. Asrinaldi, M.Si, dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya membangun masyarakat yang kritis dan rasional.
Tantangan demokrasi ke depan semakin kompleks karena teknologi dapat membentuk persepsi publik secara masif, juga menegaskan bahwa demokrasi yang sehat hanya bisa lahir dari masyarakat yang cerdas secara politik dan matang secara digital.
“Teknologi itu netral. Yang menentukan baik atau buruk adalah manusia yang menggunakannya,” ujar Prof. Asrinaldi.
Kegiatan pendidikan politik ini menjadi gambaran bahwa Sumatera Barat mulai serius menghadapi tantangan era AI dan digitalisasi politik, Jika dahulu politik identik dengan panggung kampanye konvensional, kini masa depan demokrasi juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat memahami teknologi.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, munculnya figur-figur muda seperti Supri Ardi menunjukkan bahwa anak muda daerah juga mampu mengambil peran penting dalam membangun kesadaran digital masyarakat.
Bukan sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi menjadi penggerak literasi, edukasi, dan transformasi sosial berbasis teknologi.
Masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi juga seberapa cerdas masyarakat menghadapi perubahan zaman.**(yans)




















