Senin, April 15, 2024

Nuklir Jadi Pilihan Utama Rusia Jika Kalah Dalam Perang Melawan Ukraina

Must read

Moskow – Militer Rusia akan menggunakan alternatif senjata nuklirnya jika perangnya dengan Ukraina memperlihatkan tanda-tanda kekalahannya. Pernyataan itu disampaikan militer Rusia itu jika kenyataan itu benar-benar terjadi.

Sementara dilansir Reuters, Senin (31/7/2023) otoritas Kyiv menyebut bahwa pasukannya mencapai sejumlah kemajuan dalam upaya merebut kembali wilayah-wilayah yang diduduki pasukan Moskow, meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat dari yang diinginkan.

Sedangkan sebelumnya pada 17 Juli lalu, Putin mengklaim serangan balasan Ukraina untuk memukul mundur pasukan Moskow telah gagal.

Kemudian ujar Putin, “Semua upaya musuh untuk menerobos pertahanan kami… mereka belum berhasil sejak ofensif dimulai. Musuh tidak berhasil,” ujarnya dalam wawancara televisi seperti dilansir kantor berita AFP pada saat itu.

Selanjutnya terlepas dari hal tersebut para pengkritik Kremlin di masa lalu menuduh Medvedev sengaja melontarkan pernyataan ekstrem dalam upaya menghalangi negara-negara Barat untuk terus memasok persenjataan ke Ukraina.

Apalagi ditambah Ukraina berupaya merebut kembali wilayah-wilayahnya yang dianeksasi secara sepihak dan diduduki Rusia sejak invasi dilancarkan pada Februari 2022.

Adapun pasca langkah Kremlin menganeksasi wilayah Ukraina itu menuai kritikan sebagian besar negara Barat.

Sementara pada Sabtu (29/7) waktu setempat Putin mengatakan bahwa tidak ada perubahan serius di medan perang yang dilaporkan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan dia juga mengklaim Ukraina telah kehilangan banyak peralatan militer sejak 4 Juni lalu.

Ide nuklir dari sang mantan

Adapun orang yang punya ide menggunakan senjata nuklir adalah Sang Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev. Dia tidak ingin NATO mendominasi negaranya suatu saat bila Rusia kalah perang.

Selanjutnya Medvedev mengatakan bahwa Moskow harus menggunakan senjata nuklir, jika serangan balasan Kyiv yang sedang berlangsung saat ini berujung keberhasilan.

Sementara sosok Medvedev yang kini menjabat wakil ketua Dewan Keamanan Rusia yang dipimpin Presiden Vladimir Putin, menyatakan via media sosial bahwa Moskow akan dipaksa keluar dari doktrin nuklirnya dalam skenario semacam itu atau jika serangan balasan Ukraina berhasil.

Medvedev menegaskan, “Bayangkan jika… serangan balasan yang didukung oleh NATO berhasil dan mereka mengoyak sebagian tanah kita, maka kita akan terpaksa untuk menggunakan senjata nuklir sesuai dengan aturan dekrit dari Presiden Rusia” tegasnya dalam pernyataan pada Minggu (30/7) waktu setempat.(H.A)

More articles

IklanIklanIklan HuT RI

Latest article