BUKITTINGGI, dutametro com. — Solidaritas insan pers kembali terlihat di Kota Bukittinggi. Puluhan wartawan dari berbagai media menggelar doa bersama di kawasan Jam Gadang, Minggu 13 September 2026 sore, untuk keselamatan lima orang jurnalis yang hilang jejak di perairan Selat Sunda saat meliput bencana erupsi Gunung Anak Krakatau.
Aksi spontan tersebut berlangsung khidmat di tengah keramaian ratusan wisatawan. Turut hadir Ketua PWI Bukittinggi Asrial Gindo, Kepala Stasiun RRI Bukittinggi Abdul Ghafar, dan Ketua Bukittinggi Press Club (BPC) Al Fatah.
“Tanggung Jawab Besar di Balik Setiap Berita”*
Kepala Stasiun RRI Bukittinggi, Abdul Ghafar menyampaikan aksi ini adalah bentuk kepedulian kemanusiaan sekaligus penghormatan terhadap perjuangan wartawan di lapangan.
“Wartawan menyadari bahwa di balik setiap informasi yang sampai kepada masyarakat, terdapat perjuangan dan tanggung jawab besar. Termasuk ketika harus berada di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi,” ujar Abdul Ghafar.
Ia menegaskan peran wartawan sangat penting dalam menyampaikan informasi kebencanaan kepada publik. Namun, keselamatan jurnalis juga harus menjadi perhatian bersama.
“Jurnalis adalah bagian penting dalam rantai informasi kebencanaan. Karena itu keselamatan mereka harus kita jaga bersama,” tegasnya.
PWI Bukittinggi Harap Pencarian Maksimal*
Ketua PWI Bukittinggi, Asrial Gindo menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas musibah yang menimpa rekan sejawatnya.
“Profesi wartawan menuntut keberanian, ketekunan, dan tanggung jawab. Sering kali kami harus berada di lokasi dengan kondisi tidak menentu demi mendapatkan informasi yang akurat dan dibutuhkan masyarakat,” kata Asrial.
“Solidaritas ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap sesama wartawan. Kita berdoa agar kelima rekan kita segera ditemukan dalam keadaan selamat,” lanjutnya.
Jadikan Ini Pengingat Pentingnya Kesiapsiagaan*
Senada, Ketua Bukittinggi Press Club (BPC) Al Fatah menyebut aksi tersebut lahir dari rasa persaudaraan sesama insan pers.
“Ketika seorang wartawan turun ke lapangan, ada tanggung jawab besar yang dipikul. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, tapi keselamatan tetap nomor satu,” ucap Al Fatah.
Ia berharap peristiwa ini menjadi pengingat bahwa liputan kebencanaan membutuhkan kesiapsiagaan, kehati-hatian, serta dukungan nyata terhadap keselamatan jurnalis.
Aksi di Jam Gadang ini membuktikan kuatnya ikatan kebersamaan wartawan Bukittinggi. Perbedaan media dan platform tidak menghalangi untuk saling mendukung ketika rekan seprofesi menghadapi situasi sulit.
Doa bersama ditutup dengan harapan agar kelima wartawan yang hilang di Selat Sunda segera ditemukan dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga
(Zlk)*








