Iklan
Iklan

Jejak Sepatu Bot Prajurit Loreng yang Tertinggal di Tanah Merah Buluh Kasok: Menyalakan Harapan Setelah Puluhan Tahun Indonesia Merdeka

Oleh: Eriwal Tanjung, S.H.

Lembah Harau terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sejak zaman dahulu dikenal sebagai wilayah yang menyimpan nuansa alam eksotis, memukau, dan medan yang menantang. Di balik alam demikian ada sosok prajurit yang berjuang meretas jalur untuk kemajuan masyarakat.

Jorong Buluh Kasok dan Jorong Aia Putiah, di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau. Dua kampung yang dikelilingi tebing-tebing granit purba, bagaikan benteng alam tak tergoyahkan, seperti dinding yang menjulang “angkuh”, namun panorama pegunungannya hijau mempesona. Dua realita yang berbeda. Pesona hijaunya menggoda, namun tantangannya luar biasa.

Berpuluh tahun masyarakat menempuh perjalanan “dihalangi” kondisi alam yang sulit ditempuh, namun masyarakat tetap harus menempuhnya agar bisa terus memenuhi kebutuhan, mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan yang lebih baik.

Di tengah kontur geografis yang menantang dan topografi perbukitan melengkung. Sebuah misi pengabdian besar hadir dari dalam diri seorang prajurit. Sebuah rencana untuk meretas selubung isolasi, agar kesejahteraan masyarakat di Jorong Buluh Kasok dan Jorong Aia Putiah semakin menyala.

Di garis depan langkah operasi, ada strategi, ada kekuatan otot, ada ketahanan fisik, ada tetesan keringat. Di balik semua langkah itu, ada sosok yang berdiri tegak, menggelorakan semangat agar impian masyarakat selama berpuluh-puluh tahun sejak Indonesia Merdeka, benar-benar menjadi nyata. Kampung mereka menjadi terbuka, kesejahteraan mereka semakin menyala.

Sosok tersebut bernama Letkol Inf Adi Nofriadi Nata. Beliau diberi amanah oleh negara menjadi Komandan Kodim (Dandim) 0306/50 Kota. Perwira menengah ini menjadi motor penggerak utama. Tak hanya mengelola roda kerja, tetapi juga memastikan setiap tetes keringat pasukannya bernilai dan membawa manfaat bagi rakyat yang selama ini tinggal terpencil di tengah hamparan alam Harau.

Adi Nofriadi Nata memimpin pasukannya melalui Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129, Tahun 2026. Program ini hadir bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur biasa, tetapi menjelma menjadi sebuah narasi epik tentang bagaimana tentara dan masyarakat berkolaborasi sangat erat.

Gaya kepemimpinan Letkol Adi Nofriadi Nata tidak memberikan komando dari balik meja kerja yang nyaman di markas, atau hanya mengawasi melalui layar pantau. Ia turun langsung ke lapangan. Ia merasakan tebalnya debu yang menutupi wajah, merasakan lumpur di lapangan yang menggenang di antara selipan sepatu, merasakan setiap tantangan yang harus dihadapi pasukannya setiap hari. Mendengarkan suara hati masyarakat yang tak terlukiskan.

Ia merasakan debu merah Harau yang menutupi wajah dan seragam lorengnya. Membaui aroma khas tanah liat yang baru digali, bau yang menjadi teman sepanjang hari. Merasakan beratnya medan yang dilalui di antara bukit tanah yang gersang, batuan cadas yang kasar, yang baru saja dibelah menggunakan alat berat demi membuka akses jalan baru yang menjadi harapan rakyat.

Langkah kakinya yang mantap menyusuri lahan tanah merah yang masih hangat dipanggang panas matahari, diapit tebing curam sisa galian yang menjulang tinggi. Seolah menjadi pesan diam namun tegas kepada setiap prajurit dan warga yang terlibat: tidak ada rintangan alam yang tidak bisa ditembus oleh niat tulus dan kerja keras yang bersama-sama kita bangun.

Frase “Membelah Harau” dalam konteks pelaksanaan TMMD ini bukanlah sebuah kiasan sastra semata, melainkan realitas fisik yang harus dihadapi dengan tekad bulat setiap hari. Pengerjaan infrastruktur utama di wilayah ini menuntut pengerahan alat berat modern dan tenaga manusia yang bekerja dengan sinergi sempurna.

Di lereng-lereng bukit yang menjulang terjal, sebuah ekskavator berwarna kuning tampak bekerja keras menggerudi dan memindahkan material tanah liat yang lekat serta bebatuan cadas yang kokoh, di bawah pengawasan langsung personel TNI berseragam loreng yang bersiaga dengan penuh ketelitian di sisi tebing. Deru ekskavator berpadu dengan suara cangkul yang menggali tanah, menciptakan irama kerja yang khas di lereng bukit. Ini merupakan bagian krusial dari upaya masif penyiapan badan jalan baru sepanjang 2.700 meter dengan lebar 7 meter yang dirancang untuk menembus pedalaman wilayah yang selama ini terpencil dari sentra perkembangan.

Berkat taktik pengerjaan yang terstruktur dan efektif yang dipimpin langsung oleh Letkol Adi, jalan baru tersebut kini sukses menembus progres 52 persen—angka yang mencerminkan efisiensi kerja dan koordinasi yang luar biasa di medan yang sulit.

Tidak berhenti di situ, tim Satgas juga harus melakukan manuver teknis yang kompleks: penurunan elevasi jalan sepanjang 400 meter yang saat ini persentasenya telah mencapai 27 persen. Pekerjaan teknis ini sangat vital untuk memangkas kemiringan lereng yang ekstrem, memastikan bahwa kelak jalan tersebut tidak hanya layak dilalui, melainkan aman dan nyaman bagi kendaraan pengangkut hasil bumi milik masyarakat setempat yang selama ini harus mengandalkan jalan kaki untuk membawa hasil kerja mereka ke pasar.

Orkestrasi Sinergi: Kuantitas Kecil, Dampak Raksasa

Salah satu kekuatan utama yang menjadi ciri khas kepemimpinan Letkol Adi Nofriadi Nata terletak pada kepiawaiannya merajut sinergi yang erat antara lintas institusi dan masyarakat lokal. Satuan tugas (Satgas) gabungan yang ia pimpin sesungguhnya terbilang sangat ramping jika dilihat dari skala pekerjaan membelah bukit dan membangun infrastruktur sebesar ini—yakni hanya berjumlah 46 personel secara keseluruhan.

Pasukan yang dibawanya berkekuatan 35 anggota TNI yang memiliki dedikasi tinggi. Ada 5 personel Polri yang sigap dan siap mendukung keamanan, serta didukung secara aktif warga lokal yang memiliki komitmen besar terhadap kemajuan wilayahnya.

Di bawah kepemimpinannya yang penuh visi, keterbatasan kuantitas sama sekali bukanlah halangan yang bisa menghambat kemajuan. Kemanunggalan yang erat antara TNI, Polri, dan masyarakat sipil menciptakan ritme kerja yang luar biasa cepat, terukur, dan efisien.

Warga sipil dan prajurit tampak bahu-membahu tanpa ada sekat pembatas apapun dalam berbagai pekerjaan kasar dan teknis—seperti bergotong-royong mengaduk semen dan pasir menggunakan cangkul di area terbuka yang menjadi lokasi pengerjaan, atau bersama-sama menyusun material untuk struktur pembangunan. Pemandangan kolaboratif yang penuh kehangatan ini juga terlihat jelas di area permukiman desa, di mana warga dan prajurit TNI membaur secara alami dengan latar belakang perbukitan hijau Harau yang asri dan bangunan sekolah yang menjadi ikon pendidikan lokal, membangun infrastruktur secara bertahap dari hasil kerja keras dan keringat bersama.

Visi sang Komandan tidak pernah terpaku hanya pada pembangunan jalan raya sebagai tulang punggung kemajuan. Ia melihat lebih jauh—jaringan infrastruktur penunjang yang menjadi dasar kelayakan hidup desa juga terus dikebut secara komprehensif.

Pemasangan gorong-gorong drainase di 5 titik strategis yang dirancang untuk mengantisipasi genangan air hujan telah menyentuh progres 20 persen, sementara pembuatan struktur pasangan batu penahan tebing sepanjang 100 meter kini mencapai angka 35,5 persen. Di lapangan, para prajurit terpantau dengan cekatan memilah dan menyusun material batu kali merah yang diambil dari sumber lokal, membangun turap kokoh tepat di tengah area yang dulunya sering tergenang air lumpur dan sisa galian pembangunan.

Selain itu, pekerjaan pengentasan kemiskinan ekstrem melalui pembangunan 7 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) juga telah menembus progres 30 persen. Di lokasi pekerjaan, tampak jelas prajurit TNI bekerja sama erat dengan tukang lokal mulai menyusun batu bata merah untuk membangun struktur dinding yang kokoh di atas fondasi semen yang baru saja dicor—sebuah upaya nyata dan kongkrit untuk memberikan atap yang layak bagi warga kurang mampu yang selama ini tinggal dalam kondisi yang tidak memadai. Program vital lainnya yang menjadi prioritas, yakni TNI Manunggal Air Bersih yang bertujuan untuk memberikan akses air bersih bagi masyarakat, terpantau berada di angka progres 32 persen.

Sebagai penanda keabadian sejarah gotong royong yang terjadi di tanah Harau ini, pembangunan Tugu TMMD yang kini prosesnya mencapai 38 persen mulai memperlihatkan bentuk fisiknya yang ikonik dan penuh makna. Para personel TNI tampak bekerja dengan teliti mengukur setiap detail dan merangkai kerangka kawat yang membentuk atap bagonjong khas rumah gadang Minangkabau—simbol budaya yang mendalam bagi masyarakat Sumatera Barat.

Struktur ini dibangun di atas tugu beton berlapis semen yang kokoh, menjadi perwujudan sempurna tentang bagaimana kearifan lokal bisa menyatu harmonis dengan semangat militer yang penuh disiplin. Rangkaian pekerjaan yang saling terkait ini bukan hanya tentang membangun struktur batu dan beton—ia adalah bukti bahwa kemajuan yang berarti bisa dicapai bahkan dengan tenaga terbatas, selama didasari oleh semangat gotong royong yang tulus.

Sentuhan Kemanusiaan di Balik Ketegasan Loreng

Di balik kekerasan medan dan ketegasan kerja yang membentuk infrastruktur fisik, tersembunyi sisi lain dari kepemimpinan Letkol Adi Nofriadi Nata—perhatian mendalam terhadap kesejahteraan manusia yang menjadi inti dari setiap program pembangunan.

Kebesaran seorang komandan militer modern pada hakikatnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak bukit yang mampu ia bentuk ulang, atau seberapa panjang jalan yang sanggup ia jadikan rata dan mulus. Lebih dari itu, kebesaran diukur dari seberapa dalam ia mampu menyentuh kehidupan rakyatnya dan memperbaiki taraf hidup mereka secara menyeluruh. Di sinilah Letkol Inf Adi Nofriadi Nata membuktikan kecerdasan kepemimpinannya dalam menyeimbangkan kekuatan fisik dan pendekatan yang penuh kepekaan sosial—menyatukan hard power dengan sentuhan soft approach yang hangat.

Di tengah deru bising mesin alat berat yang bekerja tanpa henti dan dentang keras palu yang merakit struktur baja, program-program sasaran tambahan yang bersifat sosial dan pro-kemanusiaan justru melaju dengan kecepatan luar biasa dan telah dituntaskan dengan sempurna. Pada hari Minggu, 19 Juli 2026, sang Komandan dengan bangga mengumumkan bahwa dua program krusial yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan masyarakat telah selesai 100 persen: pembukaan lahan ketahanan pangan seluas 1 hektar dan penyaluran paket makanan bernutrisi tinggi bagi anak-anak penderita stunting di wilayah setempat.

Letkol Inf Adi Nofriadi Nata menyebutkan, seluruh aktivitas TMMD di Buluh Kasok berjalan dengan aman, tertib, dan terkendali tanpa ada hambatan menonjol di lapangan. Kontrol operasional yang ketat berjalan seiring dengan pencapaian target kemanusiaan yang menjadi ruh dari seluruh program pembangunan ini.

Ketegasan yang ditunjukkan di medan kerja dan kedisiplinan yang menjadi landasan setiap langkah pekerjaan berbanding lurus dengan kepekaan sosial institusi yang ia pimpin dalam merawat masyarakat. Berbagai aksi nyata lainnya yang memberikan manfaat langsung bagi rakyat telah terlaksana dengan baik: pembagian sembako yang membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga, pelayanan kesehatan gratis yang memberikan akses perawatan bagi mereka yang tidak mampu, penghijauan melalui penanaman pohon yang berkontribusi pada kelestarian alam Harau, hingga gelaran bazar murah yang dirancang untuk menekan tekanan inflasi di tingkat desa. Semua program ini telah dinikmati secara penuh—100 persen—oleh warga Nagari Sarilamak.

Lahan seluas 1 hektar yang dibuka bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, melainkan sebagai model pertanian berkelanjutan yang bisa ditiru oleh desa-desa lain di sekitar Lembah Harau. Penanaman pohon juga tidak hanya untuk penghijauan, namun untuk melestarikan ekosistem pegunungan yang menjadi sumber mata air bagi wilayah luas.

Kepemimpinan Letkol Adi membuktikan bahwa instrumen pertahanan negara bukan sekadar alat untuk menjaga kedaulatan wilayah, melainkan katalisator utama bagi terwujudnya kesejahteraan yang hadir merespons langsung urat nadi kesulitan rakyat di pelosok negeri.

Kehadiran TMMD ke-129 di wilayah ini bagaikan oase yang menyegarkan di tengah rutinitas perekonomian lokal yang sering menghadapi tantangan.

“Program ini memberikan dampak bagi masyarakatnya. Kehadiran fasilitas kesehatan gratis dan bantuan logistik yang diberikan sangat membantu meringankan beban pengeluaran harian warganya yang mayoritas bekerja sebagai pekerja serabutan dan petani kecil, terutama selama masa transisi pembangunan fisik yang sementara membatasi beberapa akses pergerakan warga,” kata Kepala Jorong Buluh Kasok, Edison.

Edison menyebutkan, Program TMMD memberikan berkah luar biasa bagi masyarakatnya.

Menyelesaikan Tugas: Melangkah ke Fase Non-Fisik

Pencapaian sektor fisik dan program sosial tambahan terus menunjukkan grafik kemajuan memukau dan melampaui ekspektasi awal. Tugas Letkol Adi Nofriadi Nata beserta pasukannya yang gagah berani belum usai sepenuhnya. Tantangan alam masih terus membayangi setiap langkah pekerjaan—mulai dari karakteristik tanah yang berat hingga pola cuaca yang tidak selalu bersahabat.

Tahapan penting selanjutnya yang menanti adalah pengerasan jalan menggunakan material sertu—material campuran yang dirancang khusus untuk menjadikan jalan awet dan tahan terhadap cuaca ekstrem khas pegunungan—sepanjang 2.550 meter. Tahapan ini dijadwalkan setelah proses penurunan elevasi dan pemadatan badan jalan rampung total, dengan target untuk memberikan permukaan jalan yang awet dan dapat digunakan dalam segala kondisi cuaca.

Selain itu, pekerjaan besar lainnya yang menuntut pendekatan persuasif dan edukatif adalah penyelenggaraan 15 materi penyuluhan sasaran non-fisik yang melibatkan berbagai sektor. Agenda ini mencakup pembekalan wawasan kebangsaan yang memperkuat rasa cinta tanah air, pemahaman tentang pentingnya bela negara bagi setiap warga negara, peningkatan kesadaran tentang Kamtibmas yang menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, hingga edukasi kesehatan yang disusun kolaboratif bersama lembaga negara seperti BKKBN, BNN, BNPB, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Letkol Adi merencanakan dengan matang untuk melaksanakannya secara bertahap, seiring berjalannya proses konstruksi fisik, memastikan bahwa pembangunan mental dan karakter masyarakat berjalan paralel dengan pembangunan infrastruktur fisik—menciptakan kemajuan yang seimbang dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, pelaksanaan TMMD ke-129 di bawah komando yang penuh visi dari Letkol Inf Adi Nofriadi Nata adalah sebuah panggung pembuktian yang dalam. Ia berhasil membuktikan bahwa membelah kekerasan alam yang dikenal sebagai “granit haram”—sebutan lokal untuk tantangan berat yang disajikan oleh medan Harau—tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan mesin atau mata pisau ekskavator yang tajam. Lebih dari itu, hal ini membutuhkan ketajaman visi seorang pemimpin yang benar-benar mencintai rakyatnya, yang mampu melihat jauh ke depan tentang apa yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk hidup lebih baik.

Proyek ini bukan hanya tentang membangun jalan di Sumatera Barat—ia adalah contoh nyata bagaimana program pembangunan daerah bisa menjadi bagian dari upaya nasional Indonesia untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, khususnya terkait akses infrastruktur dan pengentasan kemiskinan.

Jejak sepatu bot prajurit loreng yang tertinggal di tanah merah Buluh Kasok akan selamanya abadi dikenang sebagai jejak para pendobrak isolasi—mereka yang datang membawa peluh dan disiplin militer yang tinggi, lalu pulang meninggalkan warisan berharga berupa kemandirian pangan, kesehatan yang pulih, dan peradaban desa yang semakin terang dan bersinar di tengah hamparan alam Harau yang megah.

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News