PADANG – Di tengah riuh rendah angka dan tumpukan naskah pertanggungjawaban, hadir sebuah suara yang memecah kebisuan. H. Ilson Cong, SE, MM, Dt. Mongguang, Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) DPRD Sumatera Barat, menegakkan prinsip bahwa evaluasi kinerja tahun ini bukanlah sekadar ritual usai musim yang hampa makna. Ia menuntut momen bersejarah ini menjadi poros perubahan, sebuah titik balik di mana kebijakan berpaling dari sekadar administrasi menuju pelayanan yang menyentuh nurani.
Pesan tegas itu mengalir deras melalui sapaan singkat kepada awak media, Kamis malam (23/4). Di sela-sela kesibukan yang tak kenal lelah dalam meramu dan memfinalisasi rekomendasi, sosok yang dikenal dekat dan responsif ini memastikan bahwa kerja keras Pansus harus bermuara pada perubahan nyata, bukan sekadar tinta yang mengering di atas kertas.
“Kami ingin LKPJ ini jadi titik balik perbaikan kinerja pemerintahan daerah ke depan,” ujarnya dalam kalimat yang memancarkan wibawa dan ketegasan, bak sebuah tekad yang terukir kuat di atas batu.
Fokus pada Dampak yang Menyentuh Urat Nadi
Bagi Ilson Cong, sebuah laporan pertanggungjawaban tidak boleh hanya menjadi hantu yang terkurung di dalam lemari arsip yang kelabu dan berdebu. Ia menuntut agar setiap butir evaluasi, setiap catatan kritis, dan setiap rekomendasi yang dilahirkan mampu melahirkan getaran nyata yang bisa dirasakan denyutnya hingga ke pelosok nagari, menyentuh kulit dan daging masyarakat.
Ada dua gema besar yang dikumandangkannya dengan lantang, menjadi pedoman yang tak tergoyahkan:
– Evaluasi sebagai Kompas Baru: Hasil kerja Pansus bukan sekadar catatan lalu, melainkan cahaya penunjuk jalan bagi eksekutif untuk memperbaiki langkah di masa depan. Ia harus menjadi cermin jujur di mana kelemahan diperbaiki dan kekuatan dikembangkan.
– Karya yang Menyentuh Hati: Perbaikan birokrasi tidak cukup hanya indah dipandang dalam persentase serapan atau indah ditulis dalam laporan. Ia harus hadir sebagai kesejukan, sebagai kemudahan, dan sebagai kesejahteraan yang nyata bagi seluruh masyarakat Sumatera Barat.
“Bukan sekadar evaluasi, tapi langkah nyata yang langsung dirasakan masyarakat,” tegasnya, bak petikan syair yang menohok kebenaran dan menuntut bukti nyata di atas tanah air.
Keterbukaan adalah Cermin Integritas
Sikap Ilson Cong yang terbuka lebar dan cepat merespons panggilan informasi publik melalui gawai adalah cermin dari jiwa yang bersih dan siap dikawal. Keterbukaan ini bukan sekadar gaya, melainkan komitmen bahwa kekuasaan itu milik rakyat, dan rakyat berhak tahu. Hal ini menjadi sangat krusial agar masyarakat tidak buta, agar mereka bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana anggaran dipergunakan dan bagaimana kebijakan dijalankan.
Kini, segenap mata rakyat tertuju pada hasil akhir dari perjuangan Pansus ini. Akankah visi besar tentang “Titik Balik” yang dijanjikan benar-benar mampu mengubah wajah pelayanan publik menjadi lebih manusiawi, lebih adil, dan lebih berpihak pada mereka yang kecil? Akankah rekomendasi ini menjadi obat yang manjur untuk menyembuhkan luka-luka pelayanan yang selama ini dirasakan?
Bola panas kini bergulir indah namun menantang di tangan pemerintah daerah. Terbukalah pintu lebar-lebar untuk berbenah. Buktikan bahwa setiap catatan kritis, setiap teguran halus, dan setiap permintaan perubahan dari wakil rakyat adalah doa, adalah harapan, dan adalah pijakan untuk membangun Sumatera Barat yang lebih bermartabat, lebih sejahtera, dan lebih dicintai rakyatnya.

















