Lima Puluh Kota — Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota resmi meluncurkan Pelatihan Edukasi Gizi melalui Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di Aula Dinkes, Kamis (23/4). Di balik seremoni tersebut, terhampar bahaya nyata: ancaman lost generation atau kehilangan generasi cerdas akibat kerusakan kognitif yang mengintai anak-anak di daerah ini.
Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, menegaskan fakta pahit bahwa stunting bukan sekadar soal tinggi badan. Ini adalah dampak kekurangan gizi kronis yang menyerang sejak masa kandungan hingga usia dua tahun. Masa emas 1.000 hari pertama ini menjadi penentu mutlak kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Dampak anak-anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dan produktivitas yang kurang optimal,” tegas Wabup.
Pernyataan ini menuntut bukti nyata. Dengan keterlibatan 112 peserta yang terdiri dari Tenaga Pelaksana Gizi (TPG), Koorlap KB, dan Kader DASHAT, muncul pertanyaan besar: Bagaimana mekanisme kontrol dan pengawasan pasca pelatihan? Jangan sampai kegiatan ini hanya berhenti di aula, atau sekadar menghabiskan anggaran tanpa perubahan perilaku yang riil di tingkat keluarga.
Kepala DP2KBP3A, Hj. Wilda Reflita, S.ST., MM, menyebut ini inovasi strategis berbasis masyarakat. Namun fakta menunjukkan, beban penurunan stunting terletak pada konsistensi pendampingan. Stunting adalah masalah kronis, maka program tidak boleh berjalan parsial.
Selaras dengan Arah Nasional
Upaya ini kini sejalan dengan gerakan besar pemerintah pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pemenuhan gizi sebagai prioritas utama, termasuk melalui program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG).
Oleh karena itu, keberhasilan DASHAT bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kewajiban mutlak. Risikonya terlalu besar, yaitu masa depan kecerdasan anak-anak. Buktikan bahwa setiap rupiah anggaran dan setiap jam pelatihan bermuara pada selamatnya generasi mendatang. Er

















