TALIABU, dutametro.com — Kepedulian terhadap persoalan masyarakat mengantarkan siswa-siswi SMAN 1 Pulau Taliabu menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui riset tentang krisis listrik di Dusun Langkuba, mereka berhasil menembus lima besar kompetisi riset energi nasional sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.
Pencapaian tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Taliabu. Wakil Bupati La Ode Yasir menerima secara resmi karya tulis ilmiah dan policy brief yang disusun para siswa dalam pertemuan di ruang kerjanya, Kantor Bupati Pulau Taliabu, Kota Bobong, Rabu (28/10/2026).
Karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Institut Hijau Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), dan You-Rings melalui program YOU-RINGS. Riset ini tidak sekadar mengangkat persoalan ketimpangan akses energi, tetapi juga menawarkan solusi konkret bagi masyarakat Dusun Langkuba yang selama puluhan tahun belum menikmati layanan listrik.
Sebelum menyerahkan dokumen tersebut, para siswa telah melakukan audiensi dengan Bupati Pulau Taliabu, Sashabila, bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Mereka juga terlibat langsung dalam kunjungan lapangan Bupati ke Dusun Langkuba untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus menyampaikan persoalan yang ditemukan selama proses penelitian.
Masukan para siswa turut menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap akses transportasi tenaga pendidik dari Bobong menuju Langkuba. Salah satu tindak lanjut yang dilakukan adalah penyerahan bantuan rakit bermesin guna mempermudah mobilitas para guru.
Wakil Bupati La Ode Yasir mengaku kagum terhadap ketajaman analisis dan kepekaan sosial para pelajar. Menurutnya, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa generasi muda mampu memahami persoalan mendasar di daerahnya dan menyusun gagasan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pembangunan.
“Pemerintah daerah sangat mengapresiasi karya ilmiah yang dirumuskan adik-adik pelajar sebagai kepedulian nyata terhadap persoalan mendasar di Pulau Taliabu,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah terbuka terhadap gagasan, masukan, dan rekomendasi berbasis penelitian yang disampaikan generasi muda. Ruang dialog antara pelajar dan pemerintah perlu terus dibangun agar pemikiran kritis mereka dapat berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
“Jika ke depan ada hal-hal serupa atau gagasan demi kemajuan Kabupaten Pulau Taliabu, jangan ragu untuk disampaikan. Pemerintah daerah sangat terbuka agar kita dapat menampung pemikiran serta rekomendasi berbasis karya ilmiah dari adik-adik pelajar demi pembangunan daerah kita,” tandasnya.
Sementara itu, Fasilitator Daerah Maluku Utara Program YOU-RINGS sekaligus Koordinator Institut Hijau Indonesia Maluku Utara, Muh Arbi Hardin, menjelaskan bahwa penyerahan policy brief tersebut merupakan puncak dari rangkaian pendidikan, pendampingan, dan penelitian lapangan yang dijalani para siswa selama empat bulan.
Menurut Arbi, program tersebut dirancang untuk memperluas pemahaman generasi muda mengenai persoalan energi, termasuk mendorong mereka mengidentifikasi permasalahan di lingkungan sekitar dan merumuskan rekomendasi kebijakan berdasarkan temuan lapangan.
Ia mengatakan, pelaksanaan program di Pulau Taliabu merupakan langkah yang sengaja diperjuangkan agar pelajar di daerah kepulauan juga memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan dan riset tentang isu energi.
“Kami dari Institut Hijau memiliki program YOU-RINGS, semacam sekolah yang fokus pada isu energi. Seharusnya kegiatan ini dilaksanakan di Kota Ternate, sebagaimana di provinsi-provinsi lain di Indonesia. Namun, kami bersikeras agar kegiatan ini dilaksanakan di Taliabu, supaya adik-adik bisa belajar meskipun mereka masih duduk di bangku SMA,” ujar Arbi.
Selama empat bulan, para siswa mengikuti pembelajaran intensif setiap Sabtu di ruang WCDR, dengan dukungan fasilitas dari DMH dan Disco Miko. Proses tersebut dilanjutkan dengan pemetaan persoalan, pengumpulan data, serta penelitian langsung di Dusun Langkuba.
Perjalanan riset mereka berlangsung melalui tahapan seleksi yang ketat, mulai dari kelompok 200 besar, 12 besar, hingga akhirnya berhasil menembus lima besar nasional. Capaian ini menjadi prestasi tersendiri karena para peserta dari sejumlah daerah lain didominasi kalangan mahasiswa.
“Penyerahan policy brief ini merupakan puncaknya setelah para siswa melewati seleksi ketat dari babak 200 besar, 12 besar, hingga menembus lima besar nasional,” ungkapnya.
Arbi menjelaskan, fokus utama penelitian tersebut adalah persoalan krisis listrik yang dialami masyarakat Dusun Langkuba selama bertahun-tahun. Berdasarkan dokumen policy brief yang disusun para siswa, dusun tersebut tercatat belum menikmati layanan listrik selama 81 tahun.
Dengan jumlah sekitar 50 kepala keluarga, masyarakat setempat masih mengandalkan lampu minyak tanah dan generator set (genset) untuk memenuhi kebutuhan penerangan. Ketergantungan pada sumber energi tersebut menimbulkan beban biaya operasional bagi warga.
Berangkat dari kondisi itu, para siswa mengusulkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal dengan sistem off-grid atau di luar jaringan listrik utama. Solusi ini dinilai layak dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan potensi energi matahari di wilayah tersebut.
“Melihat potensi radiasi matahari yang tinggi di kawasan tersebut, para siswa menawarkan solusi konkret berupa penyiapan infrastruktur PLTS Komunal Off-Grid,” terangnya.
Arbi berharap rekomendasi yang disampaikan para siswa tidak berhenti sebagai dokumen penelitian, tetapi dapat menjadi bahan kajian bagi pemerintah daerah dan instansi terkait dalam mencari solusi atas persoalan kelistrikan di Dusun Langkuba.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu, khususnya Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Komunikasi dan Informatika, yang telah mendukung pelaksanaan program dengan memfasilitasi ruang untuk kegiatan pembelajaran dan pendampingan.
“Kami ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Komunikasi dan Informatika yang telah memfasilitasi ruang Komdigi Taliabu selama proses bimbingan berlangsung,” katanya.
Menurut Arbi, karya tersebut disusun berdasarkan kemampuan dan perspektif para pelajar SMA yang melakukan penelitian secara langsung. Karena itu, keberhasilan mereka bersaing dengan peserta dari berbagai provinsi, termasuk kalangan mahasiswa, menjadi bukti bahwa pelajar di daerah memiliki potensi besar untuk menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Nah, mungkin ini tidak seilmiah yang ditulis oleh para pakar. Ini adalah hasil kerja adik-adik SMA. Jika kita bandingkan dengan provinsi lain, peserta yang mewakili daerah lain rata-rata sudah mahasiswa. Tetapi dari babak 38 besar hingga lima besar, mereka bisa membuktikan bahwa mereka tidak kalah bersaing dengan mahasiswa dari provinsi lain,” tutur Arbi, yang juga merupakan penanggung jawab Komunitas Warna Taliabu.
Prestasi tersebut sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mengidentifikasi persoalan publik dan menawarkan solusi berbasis penelitian. Bagi masyarakat Dusun Langkuba, rekomendasi para siswa kini menjadi salah satu gagasan yang dapat dipertimbangkan untuk mendorong pemerataan akses energi di Kabupaten Pulau Taliabu.
(Jk)










