SUNGAI PENUH, dutameto.com – Layanan kesehatan di RS Mayjend H.A. Thalib, Kota Sungai Penuh, kembali menjadi sorotan tajam publik setelah dugaan kesalahan diagnosis oleh oknum dokter yang baru baru ini viral di media sosial. Kasus ini memicu gelombang kritik dan kekhawatiran masyarakat terhadap mutu pelayanan medis di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Sejumlah unggahan warganet menyebutkan adanya dugaan kekeliruan diagnosis yang berujung pada penerbitan surat rujukan yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi pasien. Keluarga pasien mengaku kecewa karena proses pemeriksaan disebut tidak dilakukan secara menyeluruh.
“Awalnya pasien dirujuk dengan diagnosa tertentu, namun setelah diperiksa di rumah sakit di Padang (Sumbar), hasilnya berbeda,” tulis salah satu akun yang membagikan kronologi kejadian tersebut.
Informasi itu dengan cepat menyebar dan menuai beragam respons. Banyak warga mempertanyakan standar pemeriksaan medis serta ketelitian tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan klinis yang berdampak langsung pada keselamatan pasien.
Sabtu, (21/2) Pengamat pelayanan publik di Kota Sungai Penuh menilai, apabila dugaan tersebut terbukti benar, maka hal itu harus menjadi bahan evaluasi serius bagi manajemen rumah sakit. Kesalahan diagnosis bukan sekadar kekeliruan administratif, melainkan menyangkut nyawa dan keselamatan pasien.
“Diagnosis adalah fondasi tindakan medis. Jika sejak awal keliru, maka penanganan berikutnya berpotensi tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Kasus ini dinilai berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan daerah, terlebih RS Mayjend H.A. Thalib merupakan rumah sakit rujukan utama di Kota Sungai Penuh.
Masyarakat berharap Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, melakukan penelusuran terkait kabar tersebut. Ia menegaskan pentingnya memastikan standar operasional prosedur (SOP) pelayanan medis dijalankan secara profesional dan sesuai ketentuan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen rumah sakit terkait tudingan yang beredar. Publik pun mendesak adanya klarifikasi terbuka guna mencegah spekulasi liar dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, masyarakat diimbau tetap bijak dan tidak terpancing emosi sebelum ada penjelasan resmi dari pihak terkait. Transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme tenaga kesehatan menjadi kunci dalam menjaga mutu pelayanan publik.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga integritas, ketelitian, dan tanggung jawab moral terhadap keselamatan pasien. (Jn)











