Padang,dutametro.com.- Kemacetan parah melanda berbagai ruas jalan di Kota Padang dalam beberapa hari terakhir. Penyebabnya bukan kecelakaan atau banjir, melainkan antrian panjang truk dan kendaraan di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum SPBU.
Akar masalahnya ada pada bio solar. Antrian panjang terjadi karena truk-truk pengisian bahan bakar harus mengantri berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk mendapatkan jatah solar. Akibatnya, jalanan di sekitar SPBU tersendat dan aktivitas warga terganggu.
Namun yang terjadi justru di luar nalar. Di tengah panjangnya antrian, kelangkaan solar tetap terjadi.
“Padahal sudah antri dari kemarin menunggu antrian di SPBU Kayu Gadang.. pas tibo di antriannya minyak habis,” keluh Andi, salah satu sopir bak kayu engkel, dengan nada putus asa.
Cerita Andi bukan satu-satunya. Banyak sopir dan pengendara lain mengalami nasib serupa. Berjam-jam mengantri, membakar tenaga dan waktu, tapi ketika giliran tiba, pompa SPBU sudah kering. Solar kosong.
Situasi ini menciptakan lingkaran setan. Karena solar langka, semua orang berbondong-bondong ke SPBU. Karena semua orang antri, kemacetan jadi dimana-mana. Karena macet, distribusi jadi makin terhambat. Solar makin susah masuk.
Warga bertanya-tanya: distribusinya ke mana? Pengawasannya bagaimana? Jika kuota solar memang terbatas, mengapa tidak ada sistem antrian yang lebih manusiawi? Mengapa warga harus berjibaku dan mengadu nasib di SPBU?
Hingga berita ini ditulis, antrian panjang masih terlihat di sejumlah SPBU Kota Padang. Sementara itu, roda ekonomi kecil seperti milik Andi dan sopir lainnya terus terhenti, menunggu solar yang tak kunjung pasti.





















