Iklan
Iklan

Merawat Tradisi “Tagak Tarup” di Sungai Durian Sawahlunto

Oleh : Riki Yuherman (wartawan muda)

Sawahlunto,dutametro.com – Tradisi gotong-royong mendirikan tenda utama di depan rumah calon pengantin beberapa hari sebelum hari H, atau yang biasa disebut Tagak Tarup, hingga saat ini masih lestari disebagian kehidupan masyarakat di Minangkabau, salah satunya di kota Sawahlunto. Sawahlunto yang masyarakatnya heterogen dan multietnis, tradisi tersebut masih dilakukan oleh masyarakatnya, ditengah perkembangan zaman seperti saat sekarang ini. Dan salah satu daerah di Sawahlunto yang masih melestarikan tradisi ini, yakni Sungai Durian Kelurahan Durian II Kecamatan Barangin.

Tagak tarup berasal dari gabungan bahasa Minangkabau (“tagak”) dan istilah serapan Jawa/Indonesia (“tarup/tarub”) yang artinya mendirikan tenda pesta atau pesta adat.
Secara harfiah, istilah ini terbentuk dari dua kata:
• Tagak: Berdiri atau mendirikan.
• Tarup (Tarub): Atap peneduh, tenda, atau tratag yang dipasang saat sebuah keluarga mengadakan pesta/hajatan besar (seperti pernikahan). Dalam konteks masyarakat di Sumatra Barat merupakan tradisi gotong-royong mendirikan tenda utama di depan rumah calon pengantin beberapa hari sebelum hari H. Pemasangan tarup ini menjadi simbol atau maklumat resmi kepada tetangga sekitar bahwa pemilik rumah akan segera melangsungkan hajatan besar.

Biasanya Tagak Tarup, dilakukan didahului dengan penebangan pohon bambu sebagai alat utama sebagai tiang tenda dan seng sebagai atapnya.Penebangan pohon bambu dilakukan secara gotong royong paling tidak satu Minggu sebelum pesta dilaksanakan. Selanjutnya tarup akan dipasang juga dengan bergotong royong, yang melibatkan semua generasi, baik tua, muda maupun anak-anak.

Salah seorang sesepuh masyarakat Sungai Durian Mbah Silan (94) menyebut, tradisi ini bentuk solidaritas antar masyarakat dalam membantu warganya yang akan melaksanakan pesta perkawinan. Tagak Tarup kata dia, juga sebagai wadah silaturahmi antar warga.
“Biasanya warga sibuk dengan kegiatannya masing-masing, namun dengan adanya acara ini, bisa berkumpul dan bersilaturahmi,” kata dia.

Tokoh masyarakat lainnya, Zulkarnaini, Sumanto dan Sutrisno menyebut Tagak Tarup merupakan simbol kebersamaan tanpa memandang suku, ras dan agama. Sekarang bagaimana caranya tradisi ini senantiasa lestari dan dapat terus dirawat oleh generasi berikutnya. Tradisi ini bukan sekedar kebiasaan saja, akan tetapi merawat kebersamaan dan nilai-nilai kebaikan didalamnya sehingga tidak lekang dimakan waktu.
“Perpaduan antara budaya Minangkabau dan Jawa, sehingga melahirkan tradisi yang sangat baik dan menjadi keharmonisan dan persatuan antar warga yang berbeda suku dan bahasa,” kata dia.

Tagak Tarup ditutup dengan doa dan makan bersama, dan seterusnya warga akan melakukan tradisi melek -melek sekaligus melakukan dekorasi Tarup yang telah dipasang pada malam harinya hingga hari H pesta.

Meski Tagak Tarup saat ini sudah mulai ditinggal, seiring banyak usaha tenda pelaminan, namun sebagian masyarakat masih mewariskan tradisi ini. Tradisi yang mengakar ini memiliki tujuan yang sangat baik dan mengajarkan hal-hal baik dalam merawat persatuan dan kesatuan ditengah Keberagaman yang ada di Negeri ini.(riky)

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News