Taliabu, Dutametro.Com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, tidak hanya meninggalkan hamparan lahan terbakar, tetapi juga mengancam sumber penghidupan masyarakat. Kebun-kebun cengkeh yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi petani ikut terdampak, memunculkan kekhawatiran warga terhadap keberlangsungan hidup dan masa depan keluarga mereka.
Di tengah situasi tersebut, Bupati Pulau Taliabu, Sashabila Widya L. Mus, turun langsung menemui masyarakat terdampak di sejumlah posko penanganan karhutla. Kehadirannya menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan keluhan, mengungkapkan kesedihan, sekaligus menaruh harapan terhadap upaya pemulihan yang akan dilakukan pemerintah daerah.
Bersama Wakapolres Pulau Taliabu Kompol M. Nasaruddin Haya dan sejumlah pimpinan perangkat daerah, Bupati mengunjungi posko di Desa Tikong, Desa Ufung, Desa Todoli, Desa Lede, Desa Nggele, hingga Desa Salati.
Dalam pertemuan tersebut, kerugian yang dialami petani menjadi salah satu persoalan utama yang disampaikan kepada pemerintah. Pasalnya, tanaman cengkeh bukan sekadar komoditas perkebunan bagi masyarakat Taliabu, melainkan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan anak, serta menopang perekonomian keluarga.
Kerusakan kebun akibat karhutla pun menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya pendapatan yang selama ini menjadi andalan masyarakat.
Mendengar langsung keluhan warga, Bupati Sashabila menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengupayakan bantuan bagi masyarakat yang kehilangan tanaman akibat kebakaran.
“Atas nama Pemerintah Daerah Pulau Taliabu, saya menyampaikan permohonan maaf atas kehilangan pohon cengkih bapak-ibu sekalian. Saat ini, berikan saya kesempatan untuk berupaya dan berusaha agar semua tanaman bapak-ibu yang rusak karena karhutla bisa dibantu,” ujar Sashabila.
Ia menegaskan, pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan kementerian terkait, khususnya Kementerian Pertanian, guna mengupayakan dukungan bagi petani yang kebunnya terdampak.
“Kami akan berkoordinasi dengan kementerian terkait, seperti Kementerian Pertanian dan kementerian lainnya, sehingga dapat membantu bapak-ibu,” katanya.
Petani Pertanyakan Ganti Rugi, Pemda Diminta Cari Solusi
Persoalan ganti rugi atas tanaman cengkeh yang terbakar turut menjadi perhatian masyarakat. Menanggapi pertanyaan warga mengenai kemungkinan kompensasi, Sashabila menyatakan pemerintah daerah akan memikirkan solusi terbaik untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kerusakan perkebunan.
Meski demikian, mekanisme bantuan maupun bentuk kompensasi yang dapat diberikan masih memerlukan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait.
Bagi para petani, kepastian mengenai langkah pemulihan menjadi hal penting. Sebab, kerusakan tanaman perkebunan berpotensi memengaruhi pendapatan mereka dalam jangka panjang, terlebih jika tanaman yang terbakar membutuhkan waktu untuk kembali produktif.
Karena itu, upaya penanganan karhutla tidak hanya dituntut berfokus pada pemadaman api, tetapi juga perlu diikuti langkah pemulihan bagi masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan.
Pemda Kerahkan Tim Gabungan, Teknologi Drone hingga Upayakan Helikopter
Di tengah tuntutan pemulihan tersebut, Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu juga terus berupaya mengendalikan kebakaran yang melanda sejumlah wilayah.
Sashabila menjelaskan, pemerintah daerah telah mengerahkan berbagai sumber daya, mulai dari pemanfaatan teknologi drone untuk menjangkau titik api di medan yang sulit hingga melibatkan tim gabungan yang terdiri atas aparatur sipil negara (ASN), TNI, Polri, dan relawan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pemantauan serta memperkuat upaya pemadaman di wilayah terdampak.
Selain itu, pemerintah daerah juga tengah mengupayakan bantuan helikopter untuk membantu penanganan kebakaran, khususnya di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Pemerintah daerah telah mengerahkan berbagai inovasi dan sumber daya, mulai dari mendatangkan teknologi drone untuk menjangkau titik api di medan yang sulit, mengerahkan tim gabungan yang melibatkan unsur ASN, TNI, Polri, hingga relawan,” ungkapnya.
Terkait bantuan udara, Sashabila mengatakan pihaknya telah berkomunikasi untuk mengupayakan pengerahan helikopter yang tersedia di Gorontalo. Namun, pelaksanaannya masih menyesuaikan kebutuhan penanganan karhutla di wilayah lain.
“Saat ini kami sedang berupaya agar helikopter bisa hadir. Unit tersebut saat ini tersedia di Gorontalo, dan kita sudah berkomunikasi. Namun, karena wilayah Sulawesi secara keseluruhan juga mengalami hal yang sama, ada penyesuaian. Meski begitu, kita terus berupaya agar api di wilayah dengan medan sulit dapat dipadamkan seutuhnya,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan dukungan sarana yang memadai, terutama untuk menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit diakses petugas.
Hujan di Kecamatan Lede Jadi Harapan Baru
Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, kabar turunnya hujan di Kecamatan Lede menjadi harapan tersendiri bagi masyarakat dan petugas di lapangan.
Sashabila menyampaikan rasa syukurnya atas kondisi tersebut. Ia berharap hujan dapat membantu mengurangi potensi kebakaran dan mendukung kerja tim gabungan dalam mengendalikan api.
“Alhamdulillah, di wilayah Kecamatan Lede sudah diguyur hujan. Semoga dengan hadirnya hujan ini dapat sangat membantu upaya pemadaman kita bersama,” tuturnya.
Meski demikian, penanganan karhutla tetap membutuhkan kewaspadaan dan pemantauan terhadap titik-titik api yang masih berpotensi membara, terutama di wilayah dengan kondisi medan yang sulit.
Pada kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam penanganan kebakaran, termasuk masyarakat, personel TNI-Polri, petugas pemadam kebakaran, Satpol PP, dan jajaran ASN.
“Saya ucapkan terima kasih kepada masyarakat, tim gabungan TNI-Polri, petugas Damkar, Satpol PP, hingga jajaran ASN yang dengan tulus rela menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk berjibaku melakukan pemadaman api di seluruh wilayah terdampak,” ungkap Sashabila.
Kini, harapan masyarakat Pulau Taliabu tidak hanya tertuju pada padamnya api, tetapi juga pada langkah nyata untuk memulihkan kebun-kebun yang rusak dan membantu petani kembali bangkit.
Sebab, bagi petani cengkeh, berakhirnya kebakaran bukan berarti persoalan selesai. Pemulihan tanaman, keberlanjutan pendapatan, dan kepastian dukungan pemerintah menjadi pekerjaan berikutnya yang tak kalah penting.
(JK)










