PADANG – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan demokrasi. Menjawab tantangan tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Barat menggelar Pendidikan Politik bagi Tokoh Masyarakat Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat di Rocky Hotel Padang, Sabtu 6/6/2026
Dalam kegiatan tersebut, Supri Ardi, S.Kom., M.I.Kom, penggiat media sosial berbasis Artificial Intelligence (AI), dipercaya menjadi salah satu narasumber yang membahas pentingnya literasi politik dan literasi digital di era teknologi modern.
Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya H. Muzli M. Nur, S.Pd (Anggota DPRD Sumbar), Mursalim, AP., M.Si (Kepala Kesbangpol Sumbar), Prof. Dr. Asrinaldi, M.Si (Guru Besar Ilmu Politik Universitas Andalas), serta Muhammad Ilham Akbar, S.Psi., C.H., C.Ht (praktisi dan motivator nasional).
Peserta yang berasal dari unsur Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat tampak antusias mengikuti diskusi yang mengangkat tema pentingnya menjaga kualitas demokrasi di tengah derasnya arus informasi digital.
Dalam pemaparannya, Supri Ardi menjelaskan bahwa perkembangan AI telah membuka peluang besar di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi hingga pelayanan publik. Namun di sisi lain, teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membuat informasi palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan, seperti video, suara, maupun gambar hasil manipulasi digital.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan pada teknologinya, melainkan bagaimana masyarakat mampu menggunakan dan menyikapinya secara bijak.
“Di era digital, masyarakat tidak cukup hanya memahami hak dan kewajiban politik. Mereka juga harus mampu memverifikasi informasi, memahami cara kerja media sosial, dan mengenali berbagai bentuk manipulasi digital,” ujarnya.
Supri juga menyoroti fenomena media sosial yang kerap memperlebar perbedaan pandangan politik. Algoritma digital sering kali membuat seseorang hanya menerima informasi yang sejalan dengan pendapatnya sehingga ruang dialog semakin terbatas.
Meski demikian, ia optimistis masyarakat Minang kabau memiliki modal sosial yang kuat untuk menghadapi tantangan tersebut melalui nilai-nilai musyawarah, mufakat, gotong royong, dan semangat badunsanak.
“Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun persaudaraan harus tetap menjadi prioritas. Politik boleh berbeda, tetapi hubungan kekeluargaan dan adat tidak boleh putus,” tegasnya.
Tokoh Masyarakat Garda Terdepan Literasi Digital
Dalam kesempatan itu, Supri menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat sebagai penjaga harmoni sosial sekaligus agen literasi digital. Ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan bundo kanduang dinilai memiliki pengaruh besar dalam membimbing masyarakat menghadapi hoaks, ujaran kebencian, penipuan digital, hingga disinformasi.
Supri juga mengajak generasi muda untuk menjadi produsen konten positif yang mampu menyebarkan nilai pendidikan, budaya, kewirausahaan, dan kebangsaan melalui media sosial.
“Teknologi harus diimbangi dengan kecerdasan moral. Karena sehebat apa pun teknologi, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Perkuat Demokrasi yang Cerdas dan Bermartabat
Kegiatan yang digelar Kesbangpol Sumbar ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan politik yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Tidak hanya mendorong partisipasi politik, kegiatan ini juga bertujuan membangun masyarakat yang kritis, bijak, serta mampu menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital.
Menutup pemaparannya, Supri Ardi menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk berbagi wawasan dalam forum tersebut.
Ia berharap pendidikan politik yang dipadukan dengan literasi digital dapat melahirkan masyarakat yang semakin cerdas, berdaya saing, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Minangkabau.
“Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kebijaksanaan. AI dan media sosial boleh terus berkembang, tetapi persatuan, budaya dialog, dan nilai kemanusiaan harus tetap menjadi pegangan utama,” pungkasnya.**yans






















