Iklan
Iklan

BMKG Tegaskan Gempa Belum Bisa Diprediksi: Teknologi Hanya Mampu Membaca Risiko dan Dampaknya, Warga NTT Diminta Waspadai Informasi Palsu

Kupang,dutametro.com.-Di tengah masih tingginya aktivitas kegempaan di Nusa Tenggara Timur (NTT), masyarakat kembali dihadapkan pada beragam informasi yang mengklaim dapat mengetahui kapan dan di mana gempa berikutnya akan terjadi.

Sebagian informasi bahkan disebarkan dengan mencantumkan tanggal dan jam tertentu. Bagi masyarakat yang sedang berada dalam situasi pascabencana, informasi semacam ini mudah menimbulkan kecemasan karena seolah-olah gempa dapat dipastikan jauh sebelum terjadi.

Namun, penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan persoalan yang berbeda.

Sampai saat ini, teknologi dan ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi gempa bumi secara deterministik—termasuk memastikan waktu, lokasi, dan kekuatan gempa sebelum kejadian.

Penegasan tersebut menjadi penting untuk membedakan antara deteksi gempa, pemantauan aktivitas kegempaan, analisis potensi, dan prediksi gempa. Keempat hal tersebut bukanlah sesuatu yang sama.

Dalam keterangan Stasiun Geofisika Kupang, BMKG menjelaskan bahwa teknologi yang tersedia saat ini memang mampu mendeteksi gempa setelah gelombang seismiknya terjadi.

Dari data tersebut, BMKG dapat menghitung sejumlah parameter, antara lain magnitudo, kedalaman, lokasi episenter serta karakteristik gempa lainnya. Dalam kondisi tertentu, sistem BMKG juga dapat melakukan analisis terhadap potensi tsunami.

Artinya, kemampuan sistem pemantauan kegempaan sangat penting untuk memberikan informasi dengan cepat setelah suatu kejadian berlangsung.

Namun kemampuan tersebut tidak sama dengan kemampuan meramalkan bahwa gempa tertentu akan terjadi pada tanggal, jam dan lokasi tertentu.

Perbedaan inilah yang perlu dipahami masyarakat agar tidak salah menafsirkan tampilan sistem pemantauan gempa sebagai alat yang mampu meramalkan kejadian berikutnya.

Kewaspadaan masyarakat NTT bukan tanpa alasan. Data BMKG hingga Senin, 17 Agustus 2026, mencatat 1.624 gempa susulan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7.

Aktivitas susulan dalam jumlah besar tersebut menunjukkan bahwa kondisi seismik masih perlu dipantau secara serius. Namun, tingginya jumlah gempa susulan juga tidak dapat diterjemahkan sebagai bukti bahwa seseorang atau suatu sistem telah mengetahui secara pasti kapan gempa besar berikutnya akan terjadi.

Dalam konteks ini, masyarakat justru perlu memahami perbedaan antara kewaspadaan berbasis risiko dan klaim prediksi berbasis kepastian.

Yang pertama merupakan bagian dari mitigasi bencana. Yang kedua, apabila mengklaim tanggal, jam, lokasi dan kekuatan gempa secara pasti tanpa dasar ilmiah, tidak dapat dijadikan rujukan.

Pada 15 Agustus 2026, BMKG Stasiun Geofisika Kupang mengeluarkan press release mengenai beredarnya informasi di media sosial yang menyebut adanya peringatan gempa susulan besar pada 15 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA. BMKG menyatakan informasi tersebut tidak benar atau hoaks.

Dalam penjelasannya, BMKG kembali menegaskan bahwa gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat berdasarkan waktu kejadian, lokasi maupun kekuatannya.

Dengan demikian, informasi yang memberikan kepastian bahwa gempa akan terjadi pada tanggal dan jam tertentu bukanlah produk prediksi resmi BMKG.

Perkembangan teknologi kegempaan sering kali menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Ketika masyarakat melihat peta aktivitas gempa, titik episenter, lingkaran atau indikator berwarna pada sistem pemantauan, hal tersebut bukan berarti sistem sedang menunjukkan “di sinilah gempa berikutnya akan terjadi.”

Data tersebut pada prinsipnya menggambarkan kejadian atau aktivitas kegempaan yang telah terdeteksi dan dianalisis.

Karena itu, semakin canggih alat pemantauan bukan berarti manusia telah memiliki kemampuan untuk menentukan secara pasti kapan gempa akan terjadi.

Justru, teknologi tersebut memiliki fungsi yang sangat penting pada aspek lain: mempercepat deteksi, memperbaiki informasi, memperkuat pemantauan, mendukung peringatan dini apabila memenuhi parameter tertentu, serta membantu masyarakat dan pemerintah melakukan mitigasi.

Dalam situasi seperti sekarang, masyarakat tidak dianjurkan mengabaikan aktivitas gempa. Sebaliknya, kewaspadaan harus ditingkatkan, tetapi dengan menggunakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat perlu memeriksa informasi gempa melalui kanal resmi BMKG dan tidak menjadikan pesan berantai di media sosial sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa gempa tertentu pasti akan terjadi.

Klaim yang mencantumkan tanggal, jam dan lokasi gempa secara spesifik harus menjadi perhatian khusus, terlebih apabila tidak berasal dari lembaga resmi dan tidak disertai dasar ilmiah yang dapat diverifikasi.

BMKG sendiri mengarahkan masyarakat memperoleh informasi melalui kanal resmi, termasuk situs BMKG, akun media sosial terverifikasi @infoBMKG dan aplikasi Info BMKG.

Dalam situasi pascabencana, tantangan masyarakat bukan hanya menghadapi ancaman alam, tetapi juga menghadapi banjir informasi.

Informasi yang benar dapat membantu masyarakat mengambil keputusan. Sebaliknya, informasi palsu dapat memicu kepanikan, memperburuk kondisi psikologis korban, bahkan mengganggu proses penanganan bencana.

Karena itu, pesan penting dari BMKG bukan agar masyarakat berhenti waspada. Sebaliknya, masyarakat diminta tetap waspada tanpa terjebak pada kepastian palsu.

Gempa susulan memang dapat terjadi dan aktivitas kegempaan harus terus dipantau. Tetapi sampai teknologi saat ini mampu memberikan prediksi deterministik, tidak ada dasar ilmiah bagi masyarakat untuk mempercayai klaim bahwa seseorang dapat memastikan hari, jam, lokasi dan kekuatan gempa berikutnya.

Di tengah kondisi NTT yang masih dinamis, pilihan paling rasional bukan mempercayai ramalan gempa, melainkan memperkuat kesiapsiagaan, mitigasi, literasi kebencanaan dan akses terhadap informasi resmi.

(Severinus T. Laga)

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News