KOTAMOBAGU, DutaMetro.com— Lebih dari satu abad lalu, di Jepara, lahir seorang perempuan yang mengubah arah sejarah bangsa: Raden Ajeng Kartini. Meski hidup hanya 25 tahun, gagasan dan keberaniannya menembus batas zaman—mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan dan pemikiran kritis yang ia tuangkan dalam surat-suratnya.
Semangat Kartini tak pernah padam. Tahun 2026, gaung emansipasi kembali ditegaskan melalui tema nasional: refleksi Hari Kartini sebagai pijakan pembangunan daerah dan kebangkitan perempuan Indonesia.
Di Kotamobagu, semangat itu menjelma dalam sosok Ny. Rindah Mokoginta—figur perempuan yang tak hanya hadir sebagai pendamping kepala daerah, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial berbasis budaya dan pemberdayaan.
Lahir di Kotamobagu, 31 Oktober 1985, dari pasangan Drs. Dahlan Mokoginta dan Hasna Baks, SE, Rindah—yang akrab disapa Mama Fathan—menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Sam Ratulangi dan melanjutkan magister di Universitas Gadjah Mada. Bekal akademik itu berpadu dengan akar budaya Mongondow yang kuat, membentuk karakter kepemimpinan yang visioner sekaligus membumi.
Sebagai Ketua TP PKK, Ketua Dekranasda, Bunda PAUD, Ketua TP Posyandu, dan Bunda Literasi Kotamobagu, ia menjadikan peran perempuan sebagai pusat pembangunan. Dalam waktu singkat, berbagai langkah nyata ia dorong—bukan sekadar simbolik, tetapi berdampak langsung bagi masyarakat.
Di bidang budaya, Rindah aktif mengangkat kembali identitas lokal. Ia menginisiasi identifikasi dan pengembangan kerajinan, alat musik tradisional, hingga kuliner khas Mongondow. Bahkan, ia mendesain kain tenun khas daerah sebagai simbol kebanggaan lokal yang kini mulai digunakan dalam berbagai kegiatan resmi dan budaya.
Langkahnya tak berhenti pada pelestarian, tetapi juga kolaborasi. Ia menggandeng budayawan dan sejarawan lokal untuk memastikan warisan budaya tidak hanya dikenang, tetapi diwariskan secara hidup kepada generasi muda.
Di sektor pendidikan, sebagai Bunda PAUD, ia turun langsung memberikan edukasi, menegaskan bahwa fondasi generasi unggul dimulai sejak usia dini. Perhatian terhadap anak-anak tak hanya bersifat formal—ia juga dikenal aktif membantu anak-anak kurang mampu hingga ke jenjang pendidikan tinggi tanpa publikasi.
Sementara di bidang kesehatan, melalui Posyandu, ia fokus pada penanganan stunting dan penguatan gizi keluarga. Program bantuan makanan tambahan, dukungan bagi keluarga miskin ekstrem, hingga pelatihan keterampilan bagi ibu rumah tangga menjadi bagian dari strategi besar membangun ketahanan keluarga.
Tak kalah penting, sektor literasi juga menjadi perhatian serius. Rindah mendorong akses bacaan berkualitas bagi anak-anak, sekaligus membangun benteng terhadap arus informasi yang tidak sesuai dengan nilai budaya lokal.
Bagi Rindah Mokoginta, perempuan Mongondow harus menjadi “Kartini-Kartini baru”—yang maju, berdaya, namun tetap berakar pada identitas budaya. Ia percaya, pembangunan daerah akan kuat jika perempuan dilibatkan sebagai pilar utama, bukan sekadar pelengkap.
Jejak perempuan hebat di tanah Mongondow bukan hal baru. Dari pejuang lokal hingga tokoh perempuan yang terlibat dalam sejarah nasional, semuanya menjadi mata rantai inspirasi yang kini dilanjutkan oleh generasi masa kini.
Dan di tengah arus modernisasi, sosok Rindah Mokoginta hadir sebagai bukti: bahwa menjadi Kartini hari ini bukan hanya tentang emansipasi, tetapi tentang aksi nyata—merawat budaya, menguatkan keluarga, dan membangun masa depan.
Penulis ; Hamri Mokoagow

















