Sawahlunto, dutametro.com- Kementerian Agama Kota Sawahlunto menggelar kegiatan Evaluasi serta Refleksi Program Kampung Zakat (KZ) Desa Lumindai Kecamatan Barangin, sebagai bagian dari upaya menakar keberhasilan sekaligus merancang strategi penguatan program ke depan. Bertempat di Balai desa Lumindai, Selasa (20/5).
Kepala Kantor Kemenag Kota Sawahlunto Dedi Wandra saat membuka kegiatan itu di Balai Desa Lumindai, Selasa (20/5)2025) menekankan bahwa, evaluasi Program Kampung Zakat merupakan tahapan penting dalam memastikan keberlanjutan dan efektivitas Program KZ dan mengidentifikasi berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi selama dua tahun pelaksanaann KZ Desa lumindai.
“Memasuki dua tahun program ini, tentu harus dievaluasi dampak dan sejauh mana keberhasilan serta manfaatnya bagi masyarakat,” kata Dedi Wandra.
Evaluasi ini kata Dedi Wandra, juga untuk menyamakan kembali persepsi dan arah gerak antara Kemenag, Baznas, pemerintah desa, dan masyarakat penerima manfaat.
“Kita sudah mulai dari pengembangan produk tenun songket, selanjutnya akan merambah ke sektor budidaya tembakau. Untuk itu kita evaluasi dan susun langkah strategis selanjutnya,” ujar dia.
Sementara Ketua Baznas Kota Sawahlunto, Edrizon Effendi yang berkesempatan hadir memberikan apresiasi atas peran aktif Kemenag dalam mendampingi pelaksanaan Kampung Zakat.
“Mulai dari pelatihan, permodalan, sampai pemasaran, semua didampingi dengan serius . Kami di Baznas siap memberikan dukungan maksimal agar Lumindai menjadi Kampung Zakat percontohan di Sumatera Barat,” kata Edrizon.
Disamping itu Kepala Desa Lumindai, Chairunnas juga menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang telah diberikan Kepala Kantor Kemenag dan tim selama dua tahun terakhir. Ia mengajak seluruh elemen desa untuk tidak putus asa dalam melanjutkan perjuangan.
“Kita harus punya gebrakan baru, Jangan berhenti di sini. Semoga ini menjadi cikal bakal perkembangan Desa Lumindai yang lebih baik,” harap dia.
Turut hadir Penyelenggara Zawa Kemenag, Ning Subekti Beserta Staf, Ketua Kampung Zakat Desa Lumindai, Perangkat Pemdes Lumindai serta Pelaku Usaha Tenun Songket dan Budidaya Tembakau. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Terpumpun yang menjadi ruang terbuka bagi para peserta untuk menyampaikan kendala dan hambatan selama perjalanan program. Fokus diskusi difokuskan pada penguatan usaha Tenun Songket serta rencana budidaya tembakau sebagai sektor baru Kampung Zakat Desa Lumindai.(rki)























