BOLTIM,DutaMetro.com– Sejumlah warga Desa Liberia Timur, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, membantah sejumlah informasi yang beredar terkait pelaksanaan proyek pembangunan jalan perkebunan yang didanai melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT PLN (Persero) Tahun 2026.
Warga menegaskan bahwa proyek tersebut bukan dikerjakan oleh pihak ketiga, melainkan dilaksanakan dengan melibatkan tenaga kerja masyarakat setempat, khususnya pada pekerjaan pondasi, pemasangan plat deker, serta berbagai pekerjaan konstruksi lainnya. Sementara penggunaan alat berat dilakukan untuk pekerjaan penggalian, penataan badan jalan, dan alat vibro digunakan untuk pemadatan agar kualitas jalan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.Iswandoko, salah seorang warga, mengatakan informasi yang menyebut proyek dikerjakan pihak ketiga tidak sesuai dengan fakta.
“Kami yang bekerja di lapangan mengetahui proses pelaksanaannya. Masyarakat ikut dilibatkan dalam pekerjaan pondasi, pemasangan plat deker, dan pekerjaan lainnya. Alat berat hanya digunakan untuk menggali, meratakan, dan memadatkan jalan. Jadi tidak benar kalau disebut seluruh pekerjaan dilakukan pihak ketiga,” ujarnya.Hal senada disampaikan Suhardi Slamet Menurutnya, pemberitaan yang menyebut adanya dugaan pelaksanaan proyek dengan nilai jauh di bawah anggaran tidak memiliki dasar yang jelas.
“Kami tidak pernah mengetahui adanya pelaksanaan seperti yang diberitakan. Yang kami lihat, pekerjaan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan. Kalau ada yang meragukan, silakan ukur kembali hasil pekerjaan karena panjang jalan yang dibangun bahkan melebihi volume yang tercantum pada papan proyek. Penambahan itu dilakukan untuk memenuhi permintaan masyarakat agar akses ke kebun menjadi lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Sayanto dan Abang mogo juga membantah informasi yang mengaitkan proyek tersebut dengan akses menuju kawasan geotermal.
“Jalan yang dibangun berada di luar wilayah geotermal. Jalan ini merupakan akses menuju perkebunan kopi milik masyarakat yang setiap hari digunakan petani. Jadi sangat keliru jika dikaitkan dengan kepentingan perusahaan geotermal,” tegasnya.
Pernyataan serupa disampaikan Cahyadi Ahmanto . Ia mengaku masyarakat justru sangat bersyukur dengan adanya bantuan CSR PT PLN karena manfaatnya telah dirasakan secara langsung oleh para petani.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT PLN atas bantuan pembangunan jalan ini. Sekarang hasil panen kopi lebih mudah diangkut, kendaraan sudah bisa masuk ke kebun, dan aktivitas masyarakat jauh lebih lancar. Yang kami rasakan adalah manfaatnya, bukan seperti isu yang berkembang,” tuturnya.
Keempat warga berharap masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Mereka menegaskan bahwa isu mengenai proyek dikerjakan pihak ketiga, adanya dugaan selisih anggaran, maupun anggapan bahwa jalan tersebut berada di kawasan geotermal tidak sesuai dengan fakta yang mereka ketahui di lapangan. Warga juga mempersilakan siapa pun melakukan pengecekan langsung terhadap lokasi proyek, termasuk mengukur kembali volume pekerjaan yang telah dilaksanakan.***(Bams)























