Iklan
Iklan

Dulu Rebutan, Kini Sepi — Ke Mana Daya Tarik Kursi Ketua KNPI Tanah Datar?

Opini Oleh: Mhd Nazwira Hidayat Dj SE

Anggota Muda PWI, OKK angkatan I

TANAH DATAR — Ada pemandangan yang menarik dalam dinamika menjelang pemilihan Ketua KNPI Tanah Datar. Jika pada periode-periode terdahulu posisi Ketua KNPI cukup menarik perhatian dan diwarnai banyak figur yang ingin maju, kali ini suasananya justru terasa lebih sepi.

Pertanyaannya sederhana, tetapi cukup menggelitik: mengapa kursi Ketua KNPI yang dahulu menjadi incaran banyak figur muda kini seolah kehilangan daya tarik?

Tentu, persoalan ini tidak bisa hanya diukur dari jumlah calon yang muncul. Namun, minimnya figur yang menyatakan kesiapan untuk maju patut menjadi bahan evaluasi bagi organisasi kepemudaan tersebut.

Sebab, organisasi yang memiliki daya tawar kuat biasanya mampu melahirkan kader-kader yang bersemangat mengambil tanggung jawab kepemimpinan. Ada kompetisi, ada gagasan, ada konsolidasi, dan ada semangat untuk membawa organisasi ke arah yang lebih baik.

Namun ketika kontestasi kepemimpinan justru berjalan tanpa banyak persaingan, publik tentu berhak bertanya.

Apakah KNPI masih memiliki daya tarik yang sama seperti dahulu?

Atau jangan-jangan generasi muda mulai melihat bahwa ada ruang lain yang lebih menarik untuk menyalurkan gagasan, kreativitas dan kepedulian mereka terhadap daerah?

Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan siapa pun. Justru sebaliknya, ini adalah momentum bagi KNPI untuk melakukan introspeksi.

Jangan sampai KNPI hanya terlihat ramai ketika Musda digelar. Setelah ketua terpilih, aktivitas organisasi kembali tidak terdengar secara luas. Padahal, persoalan pemuda di daerah terus berkembang dan membutuhkan wadah yang mampu menyuarakannya.

KNPI seharusnya hadir bukan sekadar sebagai organisasi yang memiliki struktur kepengurusan, tetapi sebagai rumah besar bagi pemuda.

Rumah besar tentu harus memberikan ruang kepada kader untuk tumbuh, berdiskusi, berkreasi, berorganisasi, sekaligus menyampaikan gagasan kepada pemerintah dan masyarakat.

Yang lebih penting lagi, KNPI jangan sampai dipersepsikan hanya sebagai tempat mencari posisi atau membangun jejaring untuk kepentingan tertentu.

Organisasi kepemudaan semestinya menjadi tempat pengabdian, bukan sekadar kendaraan menuju kepentingan lain.

Memang, tidak ada yang salah jika kader organisasi kemudian memilih berkiprah di dunia politik atau pemerintahan. Tetapi ketika organisasi terlalu kuat dikaitkan dengan kepentingan politik praktis, dikhawatirkan ruh kepemudaan justru semakin jauh dari perhatian.

Karena itu, sepinya peminat kursi Ketua KNPI kali ini seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan biasa.

Justru di sinilah pentingnya evaluasi.

Apa yang membuat kader muda tidak lagi antusias mengambil posisi kepemimpinan?

Apakah program organisasi belum cukup menyentuh persoalan pemuda?

Apakah komunikasi dengan organisasi kepemudaan lainnya perlu diperkuat?

Atau memang daya tawar KNPI di mata generasi muda sudah mengalami perubahan?

Semua pertanyaan itu layak dijawab secara terbuka.

Sebab, yang mengkhawatirkan bukan banyaknya calon yang bertarung. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika semakin sedikit kader yang merasa perlu memperjuangkan kepemimpinan organisasi.

Dahulu, kursi Ketua KNPI bisa menjadi ruang pertarungan gagasan dan prestise kepemudaan. Kini, jika benar kontestasinya semakin sepi, jangan buru-buru menyalahkan kader yang tidak maju.

Mungkin organisasi perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang membuat kursi ini tidak lagi semenarik dahulu?

KNPI Tanah Datar tentu masih memiliki kesempatan untuk membalik keadaan.

Musda bukan hanya momentum memilih seorang ketua. Lebih dari itu, Musda seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan kepercayaan, memperkuat kaderisasi, menyusun program yang benar-benar dibutuhkan pemuda, dan membuktikan bahwa KNPI masih memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah.

Sebab organisasi yang kuat bukan diukur dari seberapa besar nama organisasinya, tetapi dari seberapa banyak anak muda yang masih percaya bahwa organisasi tersebut layak diperjuangkan.

Kalau dahulu kursi Ketua KNPI menjadi rebutan, sementara sekarang justru sepi peminat, mungkin sudah waktunya untuk bercermin.

Bukan sekadar mencari siapa yang bersedia menjadi ketua, tetapi menemukan kembali alasan mengapa generasi muda harus mau menjadi bagian dari KNPI.

Karena ketika magnet organisasi kembali kuat, kader akan datang dengan sendirinya.

Dan ketika kader kembali bergairah, KNPI tidak hanya memiliki ketua—tetapi memiliki masa depan.

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan

Related News