Sawahlunto, dutametro.com — Kabar duka datang menyelimuti keluarga besar insan pers Kota Sawahlunto. Wartawan senior yang juga anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Sawahlunto, Tumpak Abdurrahman Simamora, telah berpulang ke rahmatullah, Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 12.15 WIB.
Kabar kepergian Bang Tumpak, sapaan akrab almarhum, terasa seperti petir di siang bolong bagi rekan-rekan sejawat. Rencana untuk menjenguk beliau ke Bukittinggi setelah dirujuk dari RSUD Sawahlunto ke Rumah Sakit Otak (RSO) Muhammad Hatta pada Sabtu (13/6/2026), belum sempat terlaksana. Takdir berkata lain, beliau lebih dahulu menghadap Sang Khalik.
Almarhum Tumpak Abdurrahman Simamora meninggal dunia dalam usia 55 tahun. Ia lahir pada 25 Oktober 1971 dan menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Muhammad Hatta Bukittinggi pada 14 Juni 2026.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta rekan-rekan seprofesi. Sosoknya dikenal sebagai wartawan yang teguh memegang kode etik jurnalistik dan memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia kewartawanan.
Di kalangan wartawan Sawahlunto, nama Bang Tumpak bukanlah sosok yang asing. Ia dikenal sebagai jurnalis yang kritis, tajam, serta memiliki karakter kuat dalam setiap karya jurnalistiknya. Sebagai wartawan media Investasi News, almarhum selalu berupaya menghadirkan tulisan yang mendalam, berimbang, dan berpegang pada prinsip-prinsip kode etik jurnalistik.
Tidak hanya sebagai jurnalis senior, bagi sebagian wartawan muda, Bang Tumpak merupakan mentor sekaligus inspirasi. Penulis sendiri mengenang almarhum sebagai sosok yang turut membuka jalan untuk terjun ke dunia jurnalistik.
Saat itu, penulis (Riki Yuherman) direkomendasikan menjadi wartawan kepada almarhum Fadila Jusman, yang kala itu merupakan wartawan Harian Haluan. Dari sanalah perjalanan penulis di dunia jurnalistik dimulai.
Lebih dari sekadar seorang wartawan, Bang Tumpak adalah sahabat sekaligus guru bagi banyak jurnalis muda. Ia kerap memberikan arahan, masukan, serta motivasi kepada wartawan yang baru meniti karier di dunia pers.
Sosoknya yang ramah, mudah bergaul, dan mampu menjalin hubungan baik dengan berbagai kalangan terlihat dari banyaknya pelayat yang hadir. Mulai dari birokrat, politisi, olahragawan, anggota Pramuka, hingga masyarakat umum datang memberikan penghormatan terakhir.
Rekan-rekan wartawan mengenang Bang Tumpak sebagai pribadi yang tegas dalam prinsip, namun hangat dalam pergaulan. Berbagai nasihat dan pengalamannya menjadi bekal berharga bagi banyak insan pers untuk terus menjaga independensi, integritas, dan kehormatan profesi wartawan.
Kini sosok yang selama ini menjadi tempat bertanya dan berbagi pengalaman itu telah pergi untuk selamanya. Namun, ia meninggalkan warisan yang tidak ternilai berupa ilmu, keteladanan, dan semangat pengabdian terhadap dunia jurnalistik.
Semoga ilmu yang telah diberikan menjadi amal jariyah bagi almarhum. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal ibadahnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Setiap langkah perjuangan dan karya-karyamu akan selalu menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
Selamat jalan Bang Tumpak.
Terima kasih atas ilmu, nasihat, bimbingan, kebersamaan, dan persahabatan yang telah diberikan selama ini.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu, waghsilhu bil-maa-i wats-tsalji wal-barad, wa naqqihi minal-khathaya kama yunaqqats-tsawbul-abyadhu minad-danas.
“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun…”
Selamat jalan, Bang Tumpak. Namamu akan selalu hidup dalam kenangan kami.
Tim






















