TALIABU, dutametro.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, kian mengkhawatirkan. Kobaran api di kawasan Telaga Biru, Desa Lede, mulai bergerak mengarah ke perkampungan Balohang. Sementara itu, kebakaran di kawasan Pasir Putih, Desa Salati, mulai merambah perkebunan produktif milik masyarakat.
Menghadapi situasi tersebut, Posko Utama Transisi Karhutla mengerahkan 37 personel tim gabungan yang dibagi menjadi dua regu untuk memperkuat upaya pemadaman di Desa Lede dan Desa Salati, Selasa (20/10/2026).
Sebanyak 20 personel ditugaskan ke Posko Lede dan 17 personel lainnya menuju Posko Salati. Pengerahan ini dilakukan secara bergantian untuk memastikan upaya pemadaman tetap berlangsung tanpa terputus, sekaligus membendung pergerakan api agar tidak semakin meluas dan mengancam permukiman maupun perkebunan warga.
Kepala Satpol PP dan Damkar Pulau Taliabu, Abdul Jalil, mengatakan pengerahan personel dilakukan setelah tim yang bertugas sepanjang malam menyelesaikan upaya pelokalisasian api di kawasan Telaga Biru dan kembali ke posko sekitar pukul 06.00 WIT.
Hal tersebut disampaikannya seusai memimpin Apel Siaga Gabungan di halaman Kantor Bupati Lama.
“Tim yang bertugas semalam di titik api Telaga Biru kembali pukul 06.00 WIT. Pagi ini, tim pengganti langsung diberangkatkan. Personel gabungan dibagi menjadi dua regu untuk menuju titik api di Telaga Biru, Desa Lede, dan Pasir Putih, Desa Salati, guna membantu proses pemadaman bersama tim lainnya dan masyarakat,” ujar Abdul Jalil.
Menurutnya, pergantian personel merupakan langkah penting untuk menjaga kesinambungan penanganan karhutla, mengingat kondisi di lapangan masih membutuhkan pengerahan tenaga dan pengawasan intensif.
Personel dari Posko Utama yang terdiri atas unsur Satpol PP dan Damkar serta BPBD juga diterjunkan langsung untuk memperkuat tim di kedua lokasi.
Mereka bergabung dengan aparat pemerintah desa, personel TNI-Polri, relawan, dan masyarakat setempat untuk melakukan pemadaman sekaligus membatasi pergerakan api agar tidak menjalar ke wilayah yang lebih luas.
Abdul Jalil menegaskan, penyelamatan perkebunan masyarakat menjadi salah satu prioritas dalam penanganan kebakaran tersebut. Pasalnya, sebagian kawasan Telaga Biru dilaporkan telah terbakar sejak Senin sore menjelang Magrib.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena titik api di Telaga Biru berada di kawasan jurang. Kondisi medan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam melakukan pemadaman, terlebih api mulai bergerak ke arah perkampungan Balohang.
Di wilayah Pasir Putih, Desa Salati, ancaman terhadap mata pencaharian warga juga semakin nyata. Berdasarkan pantauan dari posko, pergerakan api mulai memasuki kawasan perkebunan produktif. Sejumlah pemilik lahan pun turun langsung ke lokasi untuk membantu upaya pemadaman dan menyelamatkan kebun mereka dari jilatan api.
Di tengah kondisi darurat tersebut, Abdul Jalil mengingatkan seluruh personel agar tidak mengabaikan faktor keselamatan saat menjalankan tugas di lapangan.
Setiap anggota yang diterjunkan ke titik api telah diinstruksikan menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan penanganan kebakaran, termasuk masker pelindung pernapasan, helm, dan pakaian pelindung terhadap panas.
“Keselamatan personel tetap menjadi perhatian utama. Seluruh anggota yang bertugas di titik api diinstruksikan menggunakan APD untuk mengantisipasi paparan suhu tinggi dan asap pekat selama proses pemadaman,” tandasnya.
Dengan pengerahan 37 personel tersebut, tim gabungan diharapkan mampu menekan pergerakan api di dua wilayah terdampak. Namun, kondisi di Telaga Biru dan Pasir Putih masih membutuhkan kewaspadaan tinggi, terutama karena kebakaran telah mengancam perkebunan produktif dan mulai bergerak ke arah permukiman warga.
(JK)










