BOLMONG, DutaMetro.com — Pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP) di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, yang dilaporkan telah rampung, mendapat apresiasi dari masyarakat. Peran Komandan Kodim (Dandim) 1303/Bolaang Mongondow, Letkol Inf Manashe Lomo, S.H., M.I.P., turut menjadi sorotan dalam upaya mendorong penguatan ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut.
Rampungnya pembangunan KMP diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat perekonomian desa, memperluas peluang usaha masyarakat, serta mendorong kemandirian ekonomi warga. Namun, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari berdirinya bangunan fisik, melainkan juga dari kesiapan operasional dan manfaat nyata yang nantinya dirasakan masyarakat.
Kehadiran Koperasi Merah Putih dinilai memiliki potensi strategis sebagai wadah pengembangan usaha lokal, penguatan usaha mikro dan kecil, serta peningkatan aktivitas ekonomi di tingkat desa. Karena itu, pembangunan yang telah selesai perlu ditindaklanjuti dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada kepentingan anggota serta masyarakat.
Sejumlah warga Bolaang Mongondow Raya (BMR) menyampaikan apresiasi atas upaya pembangunan tersebut. Mereka berharap peran Dandim 1303/BM, Letkol Inf Manashe Lomo, dapat menjadi bagian dari penguatan sinergi antara TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendukung program pemberdayaan ekonomi.
“Kami mengapresiasi pembangunan Koperasi Merah Putih ini. Harapan kami, koperasi tersebut tidak hanya selesai secara fisik, tetapi benar-benar beroperasi dengan baik, dikelola secara profesional dan transparan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap seorang warga.
Menurut masyarakat, tantangan berikutnya adalah memastikan koperasi mampu menjalankan fungsi ekonominya secara berkelanjutan. Tanpa perencanaan usaha yang jelas, pengelolaan yang tertib, dan partisipasi aktif anggota, bangunan yang telah rampung berisiko tidak memberikan dampak ekonomi sebagaimana yang diharapkan.
Karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi faktor penting. Sinergi antara TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa, pengurus koperasi, dan masyarakat perlu diperkuat agar pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan serta kebutuhan ekonomi setempat.
“Ini bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk memperkuat kolaborasi antara TNI dan masyarakat. Namun, yang paling penting adalah bagaimana koperasi ini benar-benar berjalan, memiliki kegiatan usaha yang produktif, dan mampu memberikan manfaat bagi warga,” tambahnya.
Selain kesiapan operasional, masyarakat juga menaruh perhatian pada aspek transparansi dan akuntabilitas. Pengelolaan keuangan, kejelasan unit usaha, keterlibatan anggota, serta pengawasan berkala harus menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap koperasi.
KMP di Bolaang Mongondow diharapkan mampu menjadi wadah yang mendorong perputaran ekonomi di desa, membuka peluang usaha, serta memperkuat semangat gotong royong. Untuk mewujudkan harapan tersebut, pembangunan fisik harus diikuti dengan tata kelola yang baik dan strategi usaha yang sesuai dengan potensi serta kebutuhan masyarakat.
Apresiasi terhadap peran Dandim 1303/BM, Letkol Inf Manashe Lomo, S.H., M.I.P., diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama seluruh pihak. Keberhasilan program ini pada akhirnya harus dibuktikan melalui koperasi yang aktif, sehat secara kelembagaan, dan memberikan manfaat ekonomi yang terukur.
Dengan demikian, rampungnya pembangunan Koperasi Merah Putih bukanlah akhir dari pekerjaan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar: memastikan koperasi benar-benar berfungsi sebagai penggerak ekonomi rakyat di Bolaang Mongondow..
Rampungnya pembangunan Koperasi Merah Putih di Bolaang Mongondow menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi rakyat membutuhkan kerja nyata, kolaborasi, dan komitmen berkelanjutan. Apresiasi terhadap peran Dandim 1303/BM, Letkol Inf Manashe Lomo, S.H., M.I.P., hendaknya menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk memastikan koperasi tidak sekadar berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi benar-benar hidup sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Sebab, keberhasilan sejati bukan diukur dari apa yang telah dibangun, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dihadirkan bagi rakyat.***










