Iklan
Iklan

Di Balik Kabut Duka Payakumbuh: Selamat Jalan Bang Edwar Bendang, Sang Pondasi di Setiap Hela Napas Investigasiku

PAYAKUMBUH — Ada jenis sunyi yang teramat berat, dan malam ini sunyi itu jatuh di sudut-sudut warung kopi serta ruang redaksi di Payakumbuh, Sumatra Barat. Tempat yang biasanya riuh oleh denting sendok, asap rokok, dan bisik-bisik tajam menyusun skenario membongkar ketidakadilan, mendadak membeku. Kabar itu datang tanpa permisi, memukul batin dengan telak: Bang Edwar Bendang, jurnalis senior yang menjadi jangkar bagi banyak pencari kebenaran, telah berpulang ke rahmatullah.

Bagi jurnalis Eriwal Tanjung, S.H., kepergian ini bukan sekadar hilangnya seorang rekan seprofesi. Ini adalah runtuhnya sebuah rumah tempat bersandar. Edwar Bendang adalah fondasi, ruang tumbuh, dan kompas dalam kerasnya rimba jurnalisme investigasi.

Terlalu banyak suka dan duka yang teramat lekat di ingatan. Mereka adalah tim yang berjalan di bawah bayang-bayang ancaman, melewati malam-malam panjang yang dingin demi selembar dokumen yang disembunyikan kekuasaan. Di saat dunia luar terasa begitu memusuhi dan penuh intrik, Bang Edwar adalah tempat Eriwal pulang untuk menemukan ketenangan.

Di tengah riak penilaian publik dan badai kehidupan yang dinamis, Eriwal Tanjung berdiri tegak bagai batu karang. Dengan suara yang tertahan di tenggorokan namun penuh ketegasan, ia menepis segala penghakiman dunia terhadap sang sahabat.

“Aku tak peduli orang memandangmu itu apa, Bang. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kita. Yang jelas, kau adalah sahabat, kawan, dan saudaraku. Kau adalah tim sekaligus pondasi bagi seluruh hidup dan karierku,” ucap Eriwal, menahan sesak mengenang jutaan memori yang kini mendadak menjadi sejarah.

Bagi Eriwal, pengaruh Bang Edwar terpatri di dalam darahnya. Almarhum adalah manusia langka yang meruntuhkan angkuhnya sekat senioritas. Saat orang lain sibuk meninggikan diri, Bang Edwar justru selalu merunduk, merangkul yang muda, dan tidak pernah sekalipun membuat juniornya merasa kerdil atau direndahkan. Di dekat almarhum, Eriwal tidak hanya belajar cara menulis berita yang tajam, tetapi belajar menjadi manusia yang memiliki harga diri.

Kini, sosok yang biasa duduk tenang, mengisap rokoknya dengan senyum teduh yang selalu mendamaikan itu telah melangkah pergi, melintasi batas menuju keabadian. Ia pergi meninggalkan pena yang masih basah dan ruang kosong yang takkan pernah bisa diisi oleh siapa pun lagi.

Air mata yang tumpah hari ini tidak akan dibiarkan menjadi tanda kelemahan. Bagi Eriwal Tanjung, duka yang menyayat dada ini telah menjelma menjadi sebuah sumpah suci di garis depan kebenaran. Obor yang dinyalakan almarhum tidak akan dibiarkan padam.

“Selamat istirahat, Bang. Semoga engkau diberikan tempat yang paling layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan tenang di alam sana. Tugasmu di dunia ini sudah selesai dengan sangat terhormat. Biarkan pundakku yang memikul sisa bebanmu. Tugasmu… selanjutnya aku yang lanjutkan, Bang,” pungkas Eriwal dengan salam hormat terdalam.

Jasadnya mungkin akan menyatu dengan tanah Payakumbuh, namun di setiap detak investigasi dan tajamnya mata pena Eriwal Tanjung ke depan, napas, integritas, dan keberanian Edwar Bendang akan selalu hidup dan berlipat ganda. Selamat jalan, Sang Pondasi. Perjuanganmu abadi. Er

Must Read

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Related News